telusur.co.id - Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga merasa aneh dengan wacana memperpanjang masa jabatan presiden menjadi 3 periode.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah berulangkali menolak wacana jabatan presiden tiga periode. Namun anehnya Seknas Jokpro 2024 justru semakin kencang mengkampanyekan hal itu.
"Hal itu membuat spekulasi, wacana jabatan presiden tiga periode seolah-olah mendapat restu dari Jokowi," duga Jamiluddin, Minggu.
Spekulasi ini makin berkembang mengingat hingga saat ini belum ada teguran langsung dari Jokowi terhadap sepak terjang Seknas Jakpro 2024.
Karena itu, wacana presiden tiga periode seperti layaknya drama dalam teori Dramaturgi. Manusia sebagai aktor drama kerapkali menampilkan dirinya yang berbeda pada pangung belakang dan panggung depan.
Pada panggung depan, sang aktor bisa saja menyatakan menolak wacana presiden tiga periode, padahal pada panggung belakang yang bersangkutan menginginkan hal itu.
"Hal itu dapat terjadi karena dalam sebagian budaya kita, seseorang dinilai tidak baik bila dirinya mengajukan sebagai pemimpin. Orang seperti ini dinilai sosok ambisius. Sosok seperti ini dinilai berbahaya dan karenanya tidak layak dijadikan pemimpin."
Untuk mewujudkan keinginannya menjadi pemimpin, maka digunakan pihak ketiga untuk menyuarakannya. Pihak ketiga akan memobilisasi massa untuk menyatakan kebukatan tekad mendukung yang bersangkutan menjadi pemimpin.
"Sang calon tadi pun akan merespon dukungan massa itu dengan dingin. Saya sebenarnya tidak terpikir untuk jadi pemimpin, tapi karena permintaan rakyat tentu saya tak punya kekuatan untuk menolaknya," kata Dekan FIKOM IISIP Jakarta 1996 - 1999.
Jadi, bisa saja Jokowi menyatakan menolak wacana presiden tiga periode. Penolakannya ini sebagai realitas panggung depan.
Namun panggung belakangnya, siapa yang tahu ? Hanya saja ada keanehan karena Jokowi tetap membiarkan sepak terjang Seknas Jokpro 2024.
Mesku demikian, panggung belakang ini akan makin terang benderang bila nantinya ada mobilisasi yang intens menyuarakan dukungan tiga periode. Kalau ini terjadi, panggung depan dan pangung belakang memang berbeda. [ham]



