telusur.co.id - Kebhinnekaan bangsa Indonesia, yang sudah ada sejak dahulu, semestinya tidak ada lagi yang mempertentangkan. Adapun persoalan bangsa saat ini ialah mewujudkan sila ke-5 dalam Pancasila.
Begitu disampaikan Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo, dalam Podcast bertajuk "Harmoni Kebangsaan Dalam Kebhinnekaan" digelar Ditjet Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri, Senin (16/8/21).
"Persoalan kita sekarang adalah bagaimana mewujudkan sila kelima yaitu 'keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia'. Jika ingin sejahtera dan makmur harus diwujudkan sila kelima ini," kata Romo Benny, sapaan karibnya.
Selain itu, menurut Romo Benny, pandemi saat ini harus menjadi momentum untuk introspeksi dan berbenah diri. Penduduk Indonesia, termasuk pemerintah, harus mempercayai bahwa kemandirian bangsa dapat dilaksanakan tanpa menggantungkan diri berlebih kepada pihak-pihak di luar Indonesia.
"Pandemi saat ini seharusnya menjadi momentum kita untuk introspeksi dan membenahi tata kelola baik birokrasi dan ekonomi untuk mengembalikan lagi kemandirian pangan, ekonomi, dan kesehatan. Kita mampu," tegasnya.
Bagi Romo Benny, ruang-ruang interaksi dan perjumpaan diperlukan, untuk membangun kembali budaya musyawarah mufakat.
Kemudian, ruang publik harus diisi dengan hal positif dalam pembangunan persatuan bangsa Indonesia. "Contohnya adalah permainan tradisional dibangun dan dilestarikan kembali," pintanya.
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu'ti, yang juga sebagai narasumber, menjelaskan bahwa kebhinekaan dapat membuat Indonesia bertahan tanpa meninggalkan identitas sebagai bangsa yang memiliki budaya yang tersebar.
Ia menilai, Indonesia bisa menjadi negara yang bersatu dan berdaulat karena perbedaan yang ada tidak dinegasikan.
"Sekarang ini bagaimana kita meneguhkan kembali bhinneka tunggal ika ini. Menurut saya Bhinneka Tunggal Ika itu berbeda-beda agar kita satu atau justru persatuan itu adalah perbedaan.Kita bisa menjadi negara yang bersatu dan berdaulat karena perbedaan yang ada tidak dinegasikan," kata Mu'ti.
Karena itu, Mu'ti mengimbau masyarakat untuk kembali menumbuhkan kesadaran kesejarah.
"Indonesia butuh membangun kembali kesadaran sejarah bahwa Indonesia terbentuk karena kesadaran pendiri bangsa, serta mengakui dan merawat, serta memperkuat keragaman yang ada dalam bentuk yang konstruktif," kata Mu'ti.[Fhr]



