telusur.co.id - Kementerian Luar Negeri Rusia mengeluarkan pernyataan keras terkait konflik dengan Ukraina setelah serangan terhadap bangunan kampus dan asrama mahasiswa di Starobelsk yang disebut menewaskan 21 mahasiswa dan melukai banyak lainnya.

Dikutip Rusia Today (26/5/2026), Moskow menuding pasukan Ukraina bertanggung jawab atas serangan tersebut dan menegaskan bahwa “kesabaran Rusia telah habis.” Rusia juga memperingatkan akan meningkatkan serangan sistematis terhadap fasilitas industri pertahanan di Kiev.

Selain itu, Rusia mendesak warga asing, diplomat, dan perwakilan organisasi internasional untuk segera meninggalkan Kiev serta meminta warga sipil menjauhi fasilitas industri pertahanan yang dinilai berpotensi menjadi target militer.

Pernyataan tersebut memicu berbagai analisis dari sejumlah pakar Rusia yang diwawancarai media Rusia, termasuk harian Kommersant.

Pakar militer Andrey Ilnitsky menilai insiden Starobelsk telah membawa Rusia ke titik kritis sehingga strategi “eskalasi terkendali” dianggap sebagai langkah yang tidak terhindarkan.

Menurutnya, strategi tersebut bukan semata-mata didorong balas dendam, tetapi sebagai bentuk “hubungan sebab-akibat moral” yang bertujuan meningkatkan tekanan terhadap Ukraina dan negara-negara Barat pendukungnya.

Ia menyebut setiap langkah eskalasi Rusia dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa batas pengekangan sebelumnya telah berakhir dan serangan berikutnya akan lebih menyakitkan.

Sementara itu, Vasiliy Kashin menilai peningkatan serangan terhadap Kiev merupakan respons yang tidak terelakkan atas meningkatnya serangan Ukraina jauh ke wilayah Rusia.

Ia mengatakan serangan yang lebih intens terhadap ibu kota Ukraina berpotensi menghancurkan fasilitas produksi drone dan meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Ukraina agar kembali ke meja perundingan.

Namun analis lain, Sergey Poletaev, mengingatkan bahwa Kiev memiliki salah satu sistem pertahanan udara paling kuat di Eropa sehingga serangan skala besar tetap sangat kompleks dan mahal.

Meski demikian, ia menilai kemampuan pertahanan udara Ukraina mulai terkuras sehingga membuka peluang serangan Rusia menjadi lebih efektif dibanding sebelumnya.

Pandangan paling keras disampaikan Dmitry Suslov yang menyatakan bahwa serangan sistematis terhadap Kiev “sudah lama tertunda.”

Ia menuduh negara-negara Uni Eropa memainkan peran langsung dalam mendukung serangan Ukraina melalui bantuan produksi drone, intelijen, dan dukungan logistik.

Menurut Suslov, tujuan Rusia adalah meningkatkan tekanan material, politik, dan psikologis terhadap Ukraina agar menerima syarat-syarat perundingan yang disebut sebagai “perjanjian Anchorage.”

Ia juga mengklaim bahwa menipisnya stok rudal pertahanan udara Barat, termasuk sistem MIM-104 Patriot, membuat Kiev semakin rentan terhadap serangan Rusia.

Dalam bagian paling kontroversial, Suslov menyebut langkah berikutnya dalam eskalasi berpotensi mencakup serangan langsung terhadap target di negara-negara NATO dan Uni Eropa.

Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Ukraina maupun NATO terkait pernyataan terbaru Rusia tersebut.