telusur.co.id - Elektabilitas Partai Demokrat terus menunjukan tren kemajuan yang menggembirakan. Dari berbagai survei nasional, tingkat keterpilihan partai yang dikomandoi oleh Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ini semakin mendapat tempat di hati rakyat.
Survei Indonesia Political Opinion (IPO) terbaru, posisi Partai Demokrat berada di rangking 4, menempel Partai Gerindra yang berada di posisi 3.
Direktur Eksekutif IPO, Dedi Kurnia Syah mengakui saat ini terjadi pergerakan elektabilitas di parpol kelas menengah. Ini pertanda bagus. Artinya publik memperhatikan eksistensi mereka, di luar kelompok PKB, PAN dan PKS.
"Ada Demokrat yang terlihat bergeliat, pergerakan angkanya terasa sejak survei April 2021 dan sekarang Demokrat berhasil bertahan di posisi ke 4, ini kemajuan bagus untuk Demokrat dan AHY," ungkap Dedi dalan keterangannya, Sabtu.
Partai Demokrat mendapatkan 8,6 persen. Sementara, Partai Gerindra meskipun berada di 3 besar, tetapi trennya menurun. Gerindra mendapatkan 12,6 persen.
Selain Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional (PAN) mengalami peningkatan signifikan, dari posisi bulan April 2021 PAN di angka 2.2 persen meningkat ke 5.8 persen. Konsistensi PAN akhir-akhir ini cukup menegaskan soliditas yang terbangun di kepemimpinan Zulkifli Hasan.
“Meskipun mengalami perpecahan dengan hadirnya partai Ummat, tetapi Zulhas berhasil membuktikan kepiawaiannya menjaga soliditas PAN, bahkan berhasil mengungguli PKS, ini temuan menarik sekaligus pesan untuk PKS agar lebih waspada,” ujar Dedi Kurnia Syah.
Presentase peningkatan PAN cukup mengagetkan jika dibanding survei sebelumnya hanya 2.2 persen, kini PAN mengantongi perolehan elektabilitas 5.8 persen, naik seratus persen lebih, dan ini sejalan dengan respon publik pada ketokohan Zulhas yang berhasil masuk 10 besar. Muhaimin Iskandar saja yang gencar memasang baligo masih tertinggal cukup jauh.
Lebih lanjut, kondisi ini menandakan adanya pertarungan Parpol kelas menengah dalam menghadapi konstelasi politik 2024, terutama parpol berbasis pemilih Islam. PKB misalnya, meskipun berada di urutan teratas dengan angka 7.5 persen di kelompok parpol Islam, tetapi angkanya tidak jauh berbeda PAN dan PKS, sehingga masih memungkinkan terjadinya perebutan pemilih secara ketat.
Pergeseran posisi paling terlihat adalah menurunnya elektabilitas Partai Keadilan Sejahtera (PKS), posisi di bulan April ada di urutan ke 5 (5.3 persen) menurun ke posisi 8 (4.9 persen).
“Kondisi PKS sangat mungkin dipengaruhi lahirnya Partai Gelora, di mana dalam temuan IPO Gelora mendapat respon elektabilitas 0.7 persen, ini posisi bagus untuk partai baru, dan berbanding terbalik dengan nasib sesama new comers partai Ummat yang belum mendapat respon publik, 0.0 persen," beber Dedi
Metode Survei: IPO terlebih dulu menentukan sejumlah desa untuk menjadi sample, pada setiap desa terpilih akan dipilih secara acak –menggunakan random kish grid paper– sejumlah 5 rukun tetangga (RT), pada setiap RT dipilih 2 keluarga, dan setiap keluarga akan dipilih 1 responden dengan pembagian laki-laki untuk kuesioner bernomor ganjil, perempuan untuk bernomor genap, sehingga total responden laki-laki dan perempuan pada pembagian 50:50 persen. Pada tiap-tiap proses pemilihan selalu menggunakan alat bantu berupa lembar acak.
Metode ini memiliki pengukuran kesalahan (sampling error) 2.50 persen, dengan tingkat akurasi data 97 persen. Setting pengambilan sample menggunakan teknik multistage random sampling (MRS), atau pengambilan sample bertingkat. Survei ini mengambil representasi sample sejumlah 1200 responden yang tersebar proporsional secara nasional.
Dengan teknik tersebut memungkinkan setiap anggota populasi (responden) mempunyai peluang yang sama untuk dipilih atau tidak dipilih menjadi responden. Untuk menguji validitas responden, IPO melakukan spot check pada 20 persen dari total populasi sample. Periode survei 2-10 Agustus 2021.
PDIP : 19,5 persen
Partai Golkar : 13,8 persen
Partai Gerindra : 12,6 persen
Partai Demokrat : 8,7 persen
Partai NasDem : 7,8 persen
PKB : 75 persen
PAN : 5,8 persen
PKS : 4,9 persen
Partai Perindo : 2,1 persen
PPP : 1,9 persen
Partai Berkarya : 1,9 persen
PSI : 1,8 persen
Partai Hanura : 0,9 persen
Partai Gelora : 0,7 persen
PBB : 0,5 persen
Partai Garuda : 0,2 persen
PKPI : 0,0 persen
Partai Ummat : 0,0 persen. [ham]



