telusur.co.id - Kisah drama romantis yang diperankan oleh sepasang anak muda tentu sudah biasa. Namun, bagaimana jika sepasang kakek dan nenek kembali terlibat asmara setelah sekian lama terpisah? Lika-liku cinta lansia inilah yang menjadi sajian utama dalam film terbaru berjudul CLBK (Cinta Lama Babak Kedua).
Menampilkan jajaran aktor papan atas Indonesia, film yang memadukan kisah manis dan konflik keluarga ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop tanah air mulai 2 Juli 2026.
Poros utama cerita berpusat pada karakter Akung Abi (Slamet Rahardjo) dan Nin Sita (Widyawati), sepasang kekasih masa lalu yang terjebak dalam kisah cinta yang belum usai.
Sutradara sekaligus penulis skenario CLBK, Ivander Tedjasukmana, mengungkapkan bahwa ide cerita ini sebenarnya sudah mengendap sangat lama. Ide awal film ini lahir sejak tahun 2016 dari diskusi santai dan sesi brainstorming antara Ivander dengan almarhum Sindi di halaman belakang rumah.
"Film ini sudah tersimpan di dalam library saya hampir 10 tahun. Baru mendapat kesempatan untuk diproduksi tahun lalu, dan akhirnya bisa tayang tahun 2026 ini. Rasanya luar biasa sekali," ujar Ivander pada Sabtu (26/6/2026).
Ia mengatakan mengarahkan dua aktor legendaris dalam satu bingkai kamera menurutnya menjadi pengalaman sekaligus tantangan tersendiri bagi Ivander.
"Menyutradarai dua senior dalam satu frame itu tantangan buat saya. Tapi yang namanya senior, diberi arahan sedikit saja sudah langsung paham. Saya justru banyak belajar dari mereka," tambahnya.
Ivander juga menceritakan bahwa proses pemilihan pemain (casting) dilakukan secara bertahap dan personal seiring dengan matangnya karakter dalam skenario.
Bahkan, jajaran pemain yang terlibat saat ini merupakan daftar pemain impiannya (dream cast). Ivander mengatakan bahwa gagasan film ini berkembang dari diskusi sederhana bersama almarhum Sindi. Momen kreatif berlangsung dalam suasana santai, menjadi fondasi awal pembentukan cerita sekaligus karakter.
“Kami duduk berdua di belakang rumah, buka laptop, sambil ngopi dan brainstorming cerita,” ujar Ivander.
Seiring perkembangan cerita, gambaran karakter mulai mengerucut. Sosok aktor untuk tiap peran sudah terbayang sejak awal. Proses casting kemudian berjalan bertahap mengikuti perkembangan tersebut.
“Saya ketemu di Bintaro, ngobrol sebentar, jelasin cerita. Dua jam kemudian dia kasih kabar siap bergabung,” kata Ivander terkait keterlibatan Cynthia Marisca.
Pendekatan personal juga dilakukan kepada aktor lain, termasuk diskusi langsung dengan Widyawati untuk pendalaman karakter dalam film.
Sementara itu, pertemuan dengan Slamet Rahardjo terjadi saat hari pertama reading dan menjadi pengalaman berkesan bagi sang sutradara.
“Sebagai penggemar, itu jadi pengalaman yang luar biasa sekaligus pembelajaran,” ujar Ivander.
Setelah melalui rangkaian proses panjang, susunan pemain akhirnya terbentuk sesuai bayangan awal.
“Secara keseluruhan ini adalah dream cast saya. Banyak dari mereka sudah saya bayangkan sejak awal,” kata Ivander.
Kepuasan Terhadap Film CLBK
Selain itu, pernyataan tentang kepuasan terhadap film ini juga disampaikan oleh Vladimir Rama, Co-Producer sekaligus Founder MIR Productions.
Rama mengatakan, CLBK membawa angin segar bagi industri perfilman tanah air melalui premisnya yang unik.
“Premis film ini tidak biasa, meskipun pengalaman didalamnya bisa saja terjadi pada kita semua. Kita butuh film-film seperti ini untuk bisa dinikmati oleh pecinta film Indonesia. Saya puas dengan hasilnya,” kata Rama saat ditemui pada Press Conference 26 Juni 2026 di XXI Epicentrum Jakarta.
Rama juga menambahkan bahwa meskipun film ini bergenre drama romantis, penonton akan disuguhkan dengan porsi komedi yang cukup kuat. Kehebatan akting para pemeran menjadi kunci hidupnya dinamika cerita tersebut.
“Meskipun genrenya drama romantis, tapi bumbu komedinya cukup kental. Para cast sangat bisa memainkan semua perannya dengan sangat baik. Kalau ingin membuktikan seperti apa adu akting lintas generasi, silahkan saksikan filmnya 2 Juli nanti di Bioskop ya,” pungkas Rama.



