Guru Besar Baru Unusa, Prof. Yusak Anshori Gagas Konsep 'Softbrain Engineer' untuk Manajemen Modern - Telusur

Guru Besar Baru Unusa, Prof. Yusak Anshori Gagas Konsep 'Softbrain Engineer' untuk Manajemen Modern

Pengukuhan Prof. Mohamad Yusak Anshori, Drs., M.M., CPM (Asia) sebagai Guru Besar bidang Ilmu Manajemen. Foto: Unusa.

telusur.co.id -Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) kembali memperkuat jajaran akademiknya dengan mengukuhkan Prof. Mohamad Yusak Anshori, Drs., M.M., CPM (Asia) sebagai Guru Besar bidang Ilmu Manajemen. Dalam prosesi pengukuhan yang digelar di Auditorium Unusa, Sabtu (14/2/2026), Prof. Yusak memperkenalkan gagasan inovatif bertajuk Softbrain Engineer.

Pria kelahiran Kediri, 13 Oktober 1967 tersebut mengajak publik meninjau ulang pendekatan manajemen konvensional. Menurutnya, metode manajemen yang cenderung mekanistik kini mulai menghadapi tembok pembatasan, terutama saat dihadapkan pada era disrupsi yang menuntut kecepatan perubahan dan pengambilan keputusan yang kompleks.

Prof. Yusak menekankan bahwa pengembangan kemampuan standar atau soft skills saja tidak lagi cukup bagi organisasi modern. Ia menawarkan konsep softbrain skills, yakni kemampuan yang berakar pada mekanisme neuropsikologis manusia.

“Perubahan perilaku tidak akan bertahan jika hanya menyentuh permukaan. Softbrain skills menembus hingga cara otak memproses emosi, berpikir, dan berinteraksi,” ungkap Prof. Yusak, yang tercatat sebagai guru besar pertama di Program Studi Manajemen Unusa tersebut.

Suami dari Sadworo Ramadani ini menjelaskan bahwa softbrain skills mencakup empat dimensi utama: regulasi emosi, kelincahan kognitif, kecerdasan kolaboratif, dan resiliensi emosional. Keempat aspek ini diyakini menjadi fondasi vital bagi sumber daya manusia (SDM) agar tetap tangguh sekaligus adaptif.

Gagasan tersebut mendapat apresiasi tinggi dari Rektor Unusa, Prof. Dr. Ir. Triyogi Yuwono, DEA. Ia menilai konsep Softbrain Engineer sangat selaras dengan strategi pengembangan kampus, yakni GREATS (Growth, Reputation, Empowerment, Advancement, Transformation, dan Sustainability).

Menurut Rektor, pendekatan manajemen berbasis neurosains merupakan langkah strategis untuk membangun organisasi yang tidak hanya produktif, tetapi juga humanistik.

“Transformasi organisasi tidak cukup hanya mengandalkan sistem dan teknologi. Kita membutuhkan manusia yang memiliki ketahanan mental dan kecerdasan emosional yang kuat,” ujar Prof. Triyogi.

Pengukuhan ini sekaligus mempertegas reputasi Unusa sebagai perguruan tinggi berakreditasi unggul. Prof. Yusak sendiri dikenal sebagai akademisi yang sangat produktif; dalam setahun terakhir, ia telah menerbitkan lebih dari 30 buku manajemen yang menjembatani teori akademik dengan praktik kepemimpinan korporasi.

Ke depan, Unusa berharap konsep Softbrain Engineer ini dapat diintegrasikan lebih luas, baik dalam kurikulum pendidikan maupun kebijakan pengembangan SDM secara nasional. Gagasan ini menjadi pengingat penting bahwa di tengah dunia yang bergerak cepat, kemajuan organisasi tetap bertumpu pada satu hal fundamental: kualitas mendalam dari manusia di dalamnya.


Tinggalkan Komentar