telusur.co.id - Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf melakukan pertemuan dengan Presiden Irak Nizar Mohammed Saeed Amidi dalam kunjungannya ke Baghdad. Pertemuan tersebut membahas hubungan bilateral, konflik regional, serta pentingnya kerja sama negara-negara kawasan dalam menjaga stabilitas.
Dilansir melalui kantor berita IRNA, Rabu (19/6/2026), sebelum bertemu Presiden Amidi, Ghalibaf bersama delegasi parlemen Iran mengunjungi lokasi di Baghdad tempat Letnan Jenderal Qassem Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis tewas dalam serangan udara Amerika Serikat pada 2020. Ghalibaf memberikan penghormatan kepada kedua tokoh tersebut.
Dalam pertemuan dengan Amidi, Ghalibaf menekankan bahwa Iran dan Irak memiliki sejarah panjang dalam menghadapi berbagai tekanan dan konflik. Menurutnya, kedua negara telah saling mendukung, termasuk ketika menghadapi masa-masa sulit setelah era Saddam Hussein.
Ghalibaf juga menyoroti pentingnya hubungan antarnegara Islam. Ia menyebut kepemimpinan Iran selama beberapa dekade telah berupaya memperkuat hubungan di antara negara-negara Muslim dan mendorong kedekatan regional.
Soroti Konflik Iran dan AS
Pembicaraan kemudian beralih pada perkembangan konflik terbaru di kawasan. Ghalibaf menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai pihak yang bertanggung jawab atas meningkatnya ketegangan dan perang di kawasan.
Ia mengatakan Iran dan Irak sama-sama merasakan dampak konflik tersebut, termasuk tantangan terhadap keamanan kawasan Teluk Persia.
Menurut Ghalibaf, pengalaman berbagai konflik menunjukkan bahwa negara-negara Islam perlu memperkuat kerja sama dan tidak bergantung pada Amerika Serikat dalam persoalan keamanan.
Ia juga menilai kehadiran dan kebijakan Washington di kawasan justru telah memperbesar ketidakstabilan. Ghalibaf menekankan pentingnya negara-negara regional membangun mekanisme keamanan bersama tanpa bergantung pada kekuatan eksternal.
Irak Tegaskan Dukungan untuk Iran
Sementara itu, Presiden Irak Nizar Mohammed Saeed Amidi menyebut konflik terbaru di Iran dan kawasan sebagai tindakan yang tidak manusiawi serta bertentangan dengan hukum internasional. Menurutnya, dampak konflik tersebut juga dirasakan secara langsung oleh Irak.
Amidi menggambarkan hubungan Iran dan Irak sebagai hubungan dua masyarakat yang memiliki kedekatan sejarah dan budaya. Ia menegaskan Irak akan tetap mempertahankan komitmennya terhadap stabilitas dan mendukung kerja sama dengan Iran.
Presiden Irak juga menyoroti kondisi hubungan Iran dan Amerika Serikat yang menurutnya masih berada dalam situasi penuh ketegangan. Ia berharap konflik dapat segera diakhiri demi mencegah dampak yang lebih luas terhadap negara-negara di kawasan.
Dorong Keamanan Regional
Amidi menegaskan bahwa keamanan kawasan tidak dapat dibangun hanya dengan mengandalkan kekuatan dari luar. Menurutnya, stabilitas yang berkelanjutan harus diwujudkan melalui kerja sama negara-negara regional.
Irak, kata Amidi, akan terus mengambil peran dalam menjaga stabilitas kawasan dan memperkuat hubungan dengan negara-negara tetangga.
Pertemuan Ghalibaf dan Amidi pun menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan Iran-Irak di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kedua pihak sama-sama menekankan pentingnya dialog, kerja sama regional, dan upaya mengakhiri konflik agar tidak berkembang menjadi krisis yang lebih luas.



