telusur.co.id - Menteri Luar Negeri Oman, Badr al-Busaidi, mengumumkan bahwa putaran pembicaraan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 26 Februari, dengan dorongan positif menuju kesepakatan nuklir.
“Senang mengkonfirmasi bahwa negosiasi AS-Iran kini dijadwalkan di Jenewa pada hari Kamis ini, dengan dorongan positif untuk melangkah lebih jauh menuju penyelesaian kesepakatan,” tulis al-Busaidi di platform media sosialnya.
Pengumuman ini mengikuti pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang menegaskan bahwa kedua pihak sedang menyiapkan draf proposal untuk mencapai kesepakatan potensial. “Saya percaya ketika kita bertemu—mungkin Kamis ini di Jenewa—kita dapat mengerjakan elemen-elemen tersebut, menyiapkan teks yang baik, dan mencapai kesepakatan dengan cepat,” kata Araghchi kepada CBS.
Di sisi AS, pejabat senior Gedung Putih menyatakan bahwa pemerintahan Trump bersedia melanjutkan pembicaraan pada 27 Februari jika menerima draf proposal terperinci dari Iran dalam 48 jam. Strategi ini dianggap sebagai tekanan diplomatik tambahan untuk mendorong konsesi dari Teheran sebelum negosiasi dimulai.
Sementara itu, ketegangan meningkat di kawasan Asia Barat, dengan Presiden Donald Trump memerintahkan pengerahan pasukan substansial, termasuk kapal induk dan pesawat tempur, untuk meningkatkan postur militer terhadap Iran. Para pejabat Gedung Putih mencatat bahwa meskipun retorika Trump menegaskan kemungkinan serangan, belum ada dukungan terpadu untuk melanjutkan aksi militer, dan ada kekhawatiran bahwa eskalasi bisa mengalihkan perhatian publik dari isu ekonomi menjelang pemilu paruh waktu.
Iran sendiri menegaskan komitmen untuk perdamaian, tetapi menekankan kesiapan membela rakyat dan kedaulatan negara jika diserang. Diplomasi tetap menjadi jalan utama, dengan putaran Kamis di Jenewa diharapkan dapat membuka jalan bagi kerangka kesepakatan nuklir yang lebih konkret. [ham]



