telusur.co.id - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa “tembok kesangsian” yang dibangun negara-negara Barat serta tuntutan berlebihan Amerika Serikat (AS) menjadi penghambat utama kemajuan perundingan nuklir antara Teheran dan Washington.
Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian saat berpidato dalam peringatan 47 tahun Revolusi Islam 1979 di Teheran, Rabu (11/2). Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa Iran tidak memiliki ambisi untuk mengembangkan senjata nuklir.
“Iran tidak mengincar senjata nuklir dan siap untuk verifikasi apa pun terkait hal tersebut,” ujar Pezeshkian di hadapan para peserta peringatan.
Ia juga menekankan bahwa persoalan di kawasan Timur Tengah seharusnya diselesaikan oleh negara-negara di kawasan itu sendiri, tanpa campur tangan pihak asing. Menurutnya, Iran tidak akan tunduk pada tekanan, tuntutan berlebihan, maupun bentuk agresi apa pun.
Meski demikian, Pezeshkian menegaskan bahwa pemerintahannya tetap menempuh jalur diplomasi secara tulus. Iran, katanya, terus berinteraksi dengan negara-negara di Asia Barat untuk menjaga stabilitas dan memastikan perdamaian regional.
Selain menyinggung isu nuklir, Pezeshkian juga menanggapi situasi domestik, termasuk kerusuhan yang terjadi baru-baru ini. Ia menyatakan pemerintahannya mengerahkan seluruh upaya untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi rakyat Iran.
Menurutnya, persatuan nasional menjadi kebutuhan paling mendesak saat ini. Ia juga menekankan pentingnya akses Iran ke pasar internasional, khususnya pasar negara-negara Muslim dan negara tetangga, guna mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri.
Lebih lanjut, Pezeshkian mengatakan Iran terus memperkuat hubungan melalui berbagai kontrak dan perjanjian kerja sama, baik di tingkat regional maupun internasional, sebagai bagian dari strategi memperkuat posisi ekonomi dan diplomatik negara tersebut. [ham]



