telusur.co.id - Pemerintah Prancis meminta digelarnya rapat darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) menyusul gugurnya tiga personel penjaga perdamaian Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) di Lebanon selatan.
Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, Senin (30/3/2026), menyatakan melalui media sosial X bahwa insiden tersebut sangat serius dan membutuhkan perhatian segera dari DK PBB. Ia juga mengecam keras serangan yang menewaskan pasukan UNIFIL dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.
“Karena insiden yang sangat serius melibatkan pasukan UNIFIL, saya telah meminta rapat darurat Dewan Keamanan PBB,” ujar Barrot. Ia menekankan perlunya penyelidikan menyeluruh untuk mengungkap kronologi kejadian dan memastikan pertanggungjawaban.
Selain itu, Barrot mengutuk serangan terhadap kontingen Prancis di wilayah Naqoura, Lebanon, yang disebutnya sebagai pelanggaran keamanan dan “tindakan intimidasi” oleh tentara Israel. Pemerintah Prancis telah menyampaikan kecaman resmi kepada duta besar Israel di Paris secara tegas.
Sebelumnya, UNIFIL melaporkan seorang personel Indonesia gugur pada Minggu malam (29/3) akibat tembakan yang mengenai salah satu pos mereka. Dua personel lainnya meninggal dunia dalam serangan terhadap kendaraan patroli di wilayah Bani Haiyyan dalam 24 jam terakhir.
UNIFIL adalah misi penjaga perdamaian PBB yang dibentuk oleh DK PBB pada 1978 dan diperkuat mandatnya pada 2006 untuk memantau penghentian permusuhan serta melaksanakan berbagai tugas pemeliharaan perdamaian di Lebanon selatan.
PBB menegaskan perlunya semua pihak menghormati kewajiban internasional dan memastikan keselamatan pasukan penjaga perdamaian di lapangan. [ham]



