telusur.co.id - Kementerian Pertahanan Suriah mengumumkan perpanjangan gencatan senjata antara militer Suriah dan pasukan pimpinan Kurdi, Pasukan Demokratik Suriah (SDF), selama 15 hari mulai Sabtu malam. Perpanjangan ini bertujuan untuk mendukung operasi Amerika Serikat dalam memindahkan tahanan ISIS dari fasilitas penahanan yang sebelumnya dikendalikan oleh SDF.
Dalam pernyataan resmi, Kementerian Pertahanan Suriah menekankan bahwa gencatan senjata ini memungkinkan stabilisasi wilayah, perlindungan warga sipil, dan terciptanya kondisi yang diperlukan bagi proses integrasi SDF ke dalam lembaga pemerintah. SDF sendiri menegaskan bahwa kesepakatan ini "berkontribusi pada de-eskalasi, perlindungan warga sipil, dan penciptaan kondisi yang diperlukan untuk stabilitas".
Dilansir Al Jazeera, pengumuman perpanjangan gencatan senjata ini telah memicu rasa lega di negara yang dilanda konflik berkepanjangan. Meski demikian, ia menekankan, masih ada kekhawatiran karena isu utama penyebab bentrokan antara SDF dan pemerintah – integrasi pejuang SDF dan lembaga sipil ke dalam struktur pemerintahan – belum terselesaikan.
Presiden Suriah Ahmed al-Sharya telah menandatangani kesepakatan dengan SDF pada Maret tahun lalu untuk mengintegrasikan kelompok tersebut ke dalam lembaga negara setelah jatuhnya pemimpin lama Bashar al-Assad. Namun, implementasi rencana itu gagal akibat perbedaan pandangan antara kedua pihak mengenai cara terbaik menerapkannya, yang memicu gelombang bentrokan mematikan di beberapa wilayah dalam beberapa pekan terakhir.
Awal pekan ini, Damaskus sempat memberlakukan gencatan senjata empat hari untuk menghentikan eskalasi konflik. Saat itu, pasukan pemerintah Suriah berhasil maju cepat dan merebut wilayah yang sebelumnya dikuasai Kurdi, termasuk ladang minyak, bendungan PLTA, dan beberapa fasilitas yang menampung pejuang ISIS serta warga sipil terkait, seperti penjara al-Aqtan di provinsi Raqqa.
Keputusan memperpanjang gencatan senjata juga mendapat perhatian internasional. Pemerintah Amerika Serikat, melalui pasukan yang dipimpin Laksamana Brad Cooper di Timur Tengah, mendorong kedua pihak untuk menjaga kesepakatan. Washington telah memulai pemindahan tahanan ISIS dari Suriah ke fasilitas yang dikendalikan Irak, dengan jumlah yang bisa mencapai 7.000 orang. Cooper menekankan pentingnya koordinasi erat dengan mitra regional, termasuk pemerintah Irak, untuk memastikan kekalahan ISIS yang berkelanjutan.
Perpanjangan gencatan senjata ini menjadi langkah krusial untuk menjaga stabilitas di timur laut Suriah, sekaligus memberikan waktu bagi pemerintah dan SDF menyusun mekanisme integrasi yang telah lama tertunda. [ham]




