PT Terminal Teluk Lamong Perkuat Budaya Integritas Lewat Sosialisasi WBS dan Antigratifikasi

by Arianto Deni |
PT Terminal Teluk Lamong Perkuat Budaya Integritas Lewat Sosialisasi WBS dan Antigratifikasi
Sosialisasi Pengendalian Gratifikasi dan Whistleblowing System (WBS).

PT Terminal Teluk Lamong (TTL) memperkuat pemahaman personel pengamanan mengenai integritas dan tata kelola perusahaan melalui sosialisasi Pengendalian Gratifikasi dan Whistleblowing System (WBS).

Kegiatan yang digelar Jumat (11/9/2026) tersebut secara khusus menyasar personel Port Security atau anggota pengamanan di lingkungan TTL. Mereka menjadi salah satu kelompok penting karena berhadapan langsung dengan pelanggan dan pemangku kepentingan dalam aktivitas operasional terminal.

Sosialisasi dibuka oleh Abu Hasan Asyari dari Unit Pengendali Gratifikasi TTL. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan berbagai bentuk gratifikasi, potensi risikonya, serta langkah yang perlu dilakukan ketika personel menghadapi situasi yang berkaitan dengan benturan kepentingan di lapangan.

Melalui kegiatan tersebut, TTL kembali menegaskan komitmennya untuk menolak segala bentuk gratifikasi. Para personel juga dibekali pemahaman mengenai mekanisme pelaporan apabila menemukan atau menghadapi dugaan gratifikasi dalam pelaksanaan tugas.

Materi kemudian dilanjutkan dengan penerapan WBS yang disampaikan Muhammad Hariyanto dari Satuan Pengawas Internal TTL. Peserta mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya menyampaikan laporan atas dugaan pelanggaran secara cermat, objektif, dan bertanggung jawab.

Penerapan WBS menjadi salah satu instrumen yang digunakan perusahaan untuk mendorong budaya kerja yang transparan. Sistem tersebut juga memberikan ruang bagi pelapor untuk menyampaikan informasi dengan tetap memperhatikan aspek kerahasiaan dan keamanan.

Corporate Secretary PT Terminal Teluk Lamong, Syaiful Anam, mengatakan pemahaman mengenai tata kelola dan integritas menjadi hal penting, terutama bagi personel yang menjalankan tugas langsung di lapangan.

"Tim pengamanan adalah garda terdepan pelayanan di lingkungan terminal yang berinteraksi langsung dengan pelanggan dan pemangku kepentingan. Sosialisasi ini penting agar seluruh personil tegas menolak segala bentuk benturan kepentingan, dan mampu menjalankan tugas pengamanan dengan profesional," ujarnya.

Menurut Anam, pengendalian gratifikasi dan WBS tidak boleh berhenti pada pemenuhan ketentuan administratif. Kedua instrumen tersebut harus menjadi bagian dari perilaku kerja sehari-hari seluruh personel perusahaan.

"Pengendalian gratifikasi dan Whistleblowing System adalah bagian penting dari budaya integritas. Penerapannya bukan sekadar formalitas aturan, melainkan komitmen yang harus dijalankan secara konsisten oleh seluruh insan perusahaan," tambah Anam.

Kegiatan berlangsung secara interaktif. Para peserta memanfaatkan sesi diskusi untuk berkonsultasi mengenai sejumlah kondisi yang berpotensi muncul dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.

Diskusi tersebut menjadi kesempatan bagi personel pengamanan untuk memahami langkah yang tepat ketika menghadapi situasi yang berpotensi menimbulkan benturan kepentingan maupun dugaan pelanggaran.

Upaya memperkuat pemahaman mengenai gratifikasi dan WBS tersebut menjadi bagian dari langkah TTL dalam membangun lingkungan kerja yang mengedepankan transparansi, kepatuhan, dan akuntabilitas.

Komitmen tersebut juga sejalan dengan visi dan nilai dasar Danantara Indonesia yang menempatkan kepatuhan, transparansi, serta disiplin tata kelola sebagai bagian penting dalam menjaga integritas dan keberlanjutan perusahaan.

Komentar

Berita Terkait