telusur.co.id - Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Ruby Chairani Syiffadia, menyoroti komposisi alokasi anggaran dalam pembangunan olahraga nasional. Ia menilai pemerintah perlu memperkuat sistem pembinaan atlet agar regenerasi olahraga Indonesia tidak berjalan secara sporadis, melainkan terstruktur dan berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Ruby dalam Rapat Kerja Komisi X DPR RI bersama Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Senin (31/8/2026).
Ruby mengapresiasi peningkatan anggaran untuk sektor pelayanan dan pekerjaan yang disebut mencapai sekitar Rp130 miliar. Namun, ia menilai distribusi anggaran antar-pilar olahraga masih menunjukkan kesenjangan.
Menurutnya, porsi anggaran untuk prestasi dan aktivitas olahraga masih berada di kisaran 72 persen, sementara alokasi untuk pelayanan dan pekerjaan hanya sekitar 3 persen.
“Porsinya untuk prestasi olahraga dan aktivitas ini tetap di kisaran 72, dan untuk pelayanan dan pekerjaan masih jatuh di 3 persen. Ini kita lihat agak timpang antar-pilar yang masih sangat besar,” ujar Ruby.
Ruby menilai pembangunan olahraga nasional tidak boleh hanya berorientasi pada pencapaian prestasi dalam satu kompetisi atau event tertentu.
Menurutnya, pemerintah harus mulai membangun sistem yang mampu menemukan, membina, dan mengembangkan talenta olahraga secara konsisten dalam jangka panjang.
Dalam konteks tersebut, Ruby menilai keberadaan Akademi Olahraga Nasional dapat menjadi langkah strategis untuk membangun fondasi pembinaan atlet nasional.
“Ini merupakan langkah yang strategis, karena pembinaan olahraga Indonesia bukan hanya bagaimana kita mematangkan satu kompetisi, tapi bagaimana kita memastikan adanya regenerasi atlet yang terstruktur dan berkelanjutan,” katanya.
Karena itu, Ruby meminta Kementerian Pemuda dan Olahraga menjelaskan secara rinci kesiapan Akademi Olahraga Nasional dalam rencana kerja dan anggaran 2027.
Ia mempertanyakan sejumlah target konkret, mulai dari jumlah talenta yang akan dijaring, cabang olahraga prioritas, hingga jumlah atlet yang diproyeksikan masuk dalam pipeline pelatihan nasional menuju SEA Games 2027.
Selain target pembinaan, Ruby juga meminta Kemenpora menyusun indikator kinerja utama atau Key Performance Indicator (KPI) bagi atlet yang mengikuti program Akademi Olahraga Nasional.
Menurutnya, KPI tersebut diperlukan agar keberhasilan program tidak hanya dinilai berdasarkan ada atau tidaknya program, tetapi dapat diukur berdasarkan perkembangan dan capaian atlet yang dibina.
“Menurut kami, matriks ukur KPI yang dirumuskan akan menjadi indikator keberhasilan Akademi Olahraga Nasional,” ujarnya.
Ruby menilai sistem pembinaan atlet harus memiliki parameter yang jelas sejak tahap penjaringan talenta hingga proses pengembangan menuju level prestasi nasional dan internasional.
Ruby juga mendorong perubahan paradigma dalam pembinaan olahraga nasional. Menurutnya, pembinaan atlet tidak boleh baru digenjot ketika Indonesia menghadapi ajang besar seperti SEA Games, Asian Games, atau Olimpiade.
“Kita perlu bergeser dari event-based menuju athlete development system,” tegasnya.
Dengan pendekatan tersebut, pembinaan atlet diharapkan tidak lagi sekadar mengejar target medali pada satu event, tetapi membangun ekosistem yang mampu menghasilkan atlet berkualitas secara berkelanjutan.
Ruby menilai SEA Games 2027 dapat menjadi salah satu momentum penting untuk menguji efektivitas sistem pembinaan yang tengah dibangun melalui Akademi Olahraga Nasional.
Ajang tersebut, menurutnya, tidak semata-mata harus dilihat sebagai target perolehan medali, tetapi juga sebagai momentum untuk mengukur apakah sistem pembinaan baru telah mampu melahirkan regenerasi atlet secara konsisten.
“SEA Games 2027 akan menjadi salah satu milestone untuk menguji apakah sistem pembinaan yang sedang kita bangun melalui Akademi Olahraga Nasional benar-benar mampu menghasilkan regenerasi atlet yang berkelanjutan,” pungkas Ruby.



