telusur.co.id - Anggota Komisi II DPR RI, Azis Subekti, menegaskan bahwa narasi yang memisahkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pendidikan anak adalah keliru. Menurutnya, kedua hal itu sejatinya berada dalam satu garis yang sama dan saling mendukung.
“Kesalahan berpikir yang terus direproduksi adalah menyamakan ‘bagian dari anggaran pendidikan’ dengan ‘pengambilan dari kebutuhan dasar pendidikan’. Ini bukan sekadar kekeliruan teknis, melainkan cara baca yang sengaja disederhanakan,” ujar Azis di Jakarta, Jumat.
Azis menjelaskan narasi publik yang seolah menyajikan pilihan antara “kenyang atau cerdas, tubuh atau pikiran” justru menyesatkan. Padahal, pendidikan anak akan runtuh jika mereka belajar dalam kondisi lapar. Program makan bergizi tidak menggantikan atau memotong kebutuhan pendidikan, melainkan menjadi penopang agar anak bisa belajar secara optimal.
Menurut Azis, kegaduhan soal anggaran pendidikan dan MBG muncul karena narasi angka ratusan triliun rupiah digiring seolah terjadi perampasan hak atau pengkhianatan terhadap masa depan pendidikan. Padahal, anggaran negara memiliki struktur dan logika yang kompleks, yang kadang tidak ramah bagi emosi publik.
“Di titik inilah program makan bergizi ditempatkan; bukan sebagai pengganti, apalagi pemotong, melainkan sebagai penopang,” katanya.
Dia menambahkan bahwa kebijakan efisiensi anggaran tidak berarti memangkas hak-hak yang menyentuh masyarakat, tetapi mengoreksi belanja tidak optimal agar lebih banyak diarahkan ke program yang berdampak langsung. Ketika APBN meningkat, alokasi pendidikan sebesar 20 persen juga meningkat, termasuk kebutuhan program MBG seiring bertambahnya penerima manfaat.
“Pertanyaan yang seharusnya diajukan bukan siapa yang dikorbankan, melainkan apakah kebutuhan dasar lain tetap terjaga,” tegas Azis. [ham]



