Bidik Investasi dan Alih Teknologi di INNOPROM 2026, Pemerintah Perkuat Kemitraan Industri dengan Rusia - Telusur

Bidik Investasi dan Alih Teknologi di INNOPROM 2026, Pemerintah Perkuat Kemitraan Industri dengan Rusia

Sumber foto: dok Kemenperin

telusur.co.id - Indonesia memanfaatkan ajang INNOPROM 2026 untuk memperluas kemitraan industri dengan Rusia dan kawasan Eurasia. Melalui status sebagai Official Partner Country, pemerintah menargetkan peningkatan investasi, pengembangan manufaktur bersama (co-production), alih teknologi, hingga pembukaan akses pasar baru bagi produk industri nasional.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, partisipasi Indonesia dalam pameran industri internasional terbesar di kawasan Eurasia itu merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi industri nasional di pasar global.

"Partisipasi Indonesia pada INNOPROM 2026 merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi industri nasional di pasar global sekaligus memperluas jejaring kemitraan internasional yang mampu menghasilkan investasi, pengembangan industri, dan peningkatan daya saing manufaktur Indonesia," ujarnya dalam situs resmi Kemenperin, Sabtu (5/7).

Komitmen tersebut mulai diwujudkan melalui berbagai agenda strategis menjelang pembukaan pameran di Yekaterinburg. Salah satunya melalui konferensi pers bersama bertajuk Indonesia and Russia: Building Industrial Partnership at INNOPROM 2026, yang menjadi sarana memperkenalkan potensi industri Indonesia kepada pelaku usaha Rusia sekaligus membuka peluang kerja sama baru.

Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian, Tri Supondy, menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya berfokus pada peningkatan perdagangan, tetapi juga mendorong investasi industri dan penguatan kapasitas manufaktur nasional.

"INNOPROM 2026 kami manfaatkan untuk mempertemukan industri Indonesia dengan mitra yang tepat di Rusia dan Eurasia. Fokus kami bukan hanya memperluas perdagangan, tetapi juga mendorong investasi industri, pengembangan manufaktur bersama, dan transfer teknologi yang dapat memperkuat daya saing industri nasional," kata Tri.

Dari pihak Rusia, Wakil Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rusia Alexei Gruzdev menyebut Indonesia sebagai mitra strategis di kawasan Asia Tenggara. Menurutnya, penunjukan Indonesia sebagai negara pertama di Asia Tenggara yang menjadi Official Partner Country INNOPROM mencerminkan eratnya hubungan kedua negara.

"Indonesia merupakan ekonomi industri terbesar di Asia Tenggara sekaligus salah satu mitra industri internasional utama Rusia. Penetapan Indonesia sebagai negara pertama di Asia Tenggara sebagai Official Partner Country INNOPROM 2026 mencerminkan pentingnya hubungan kedua negara," ujarnya.

Dukungan serupa disampaikan Gubernur Sverdlovsk Region, Denis Pasler. Ia berharap kehadiran Indonesia dapat menjadi awal lahirnya kerja sama industri yang lebih luas, mulai dari investasi, proyek manufaktur bersama, hingga pengembangan teknologi.

"Kami berharap pertemuan selama INNOPROM menjadi awal dari kerja sama yang lebih luas antara pelaku industri Indonesia dengan perusahaan-perusahaan di wilayah kami, termasuk dalam bentuk investasi, proyek manufaktur bersama, dan pengembangan teknologi," katanya.

Bawa 50 Co-Exhibitor

Dalam ajang tersebut, Indonesia membawa 50 co-exhibitor dan institusi dari berbagai sektor industri, mulai dari agroindustri, kimia dan farmasi, manufaktur khusus, barang konsumsi, rekayasa maju, hingga kawasan industri dan investasi.

Mereka akan mengikuti berbagai agenda seperti business matching, forum bisnis, pertemuan bilateral, dan diskusi sektoral yang dirancang untuk mempercepat lahirnya kerja sama bisnis, investasi, serta pengembangan manufaktur bersama.

Indonesia juga menghadirkan Indonesia Pavilion seluas 1.512 meter persegi sebagai etalase kemampuan industri nasional. Paviliun tersebut menjadi ruang promosi produk, teknologi, serta peluang investasi kepada pelaku usaha, investor, asosiasi bisnis, dan pembuat kebijakan dari berbagai negara.

Direktur Program Bisnis Formika Event sekaligus penyelenggara INNOPROM, Anton Atrashkin, menilai kehadiran Indonesia menjadi salah satu daya tarik utama dalam penyelenggaraan INNOPROM 2026 karena mencerminkan semakin eratnya hubungan ekonomi kedua negara.

Sebagai pameran industri internasional terbesar di Eurasia, INNOPROM diikuti lebih dari 48.000 pengunjung dari sekitar 60 negara. Ajang tersebut dinilai menjadi platform strategis bagi Indonesia untuk memperluas jejaring kemitraan, menarik investasi, serta membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk manufaktur nasional.

Tri Supondy menegaskan, keberhasilan Indonesia dalam ajang tersebut tidak hanya diukur dari banyaknya pertemuan bisnis selama pameran berlangsung, tetapi juga dari realisasi kerja sama setelah kegiatan berakhir.

"Keberhasilan partisipasi Indonesia di INNOPROM tidak hanya diukur dari jumlah pertemuan atau kesepakatan yang tercapai selama pameran berlangsung, tetapi dari tindak lanjut yang lahir setelahnya. Kami ingin melihat lebih banyak investasi industri, proyek ko-produksi, transfer teknologi, dan kerja sama manufaktur yang memberikan nilai tambah bagi industri Indonesia maupun Rusia," ujarnya.

Melalui partisipasi sebagai Official Partner Country di INNOPROM 2026, pemerintah berharap semakin banyak investasi industri, proyek manufaktur bersama, dan alih teknologi yang terealisasi. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing industri nasional, memperluas pasar produk manufaktur Indonesia di kawasan Eurasia, serta memperkuat kemitraan ekonomi jangka panjang antara Indonesia dan Rusia.


Tinggalkan Komentar