Deep Learning Tak Cukup Sekadar Konsep, Lestari Moerdijat Minta Guru Segera Diperkuat - Telusur

Deep Learning Tak Cukup Sekadar Konsep, Lestari Moerdijat Minta Guru Segera Diperkuat

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat

telusur.co.id - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendorong pemerintah segera menjawab berbagai tantangan dalam penerapan deep learning atau pembelajaran mendalam pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Menurutnya, penguatan kapasitas guru menjadi langkah mendesak karena pendidik merupakan ujung tombak dalam memastikan transformasi pembelajaran tersebut dapat diterapkan secara efektif.

"Penguatan kapasitas guru sebagai ujung tombak transformasi pada penerapan deep learning (pembelajaran mendalam) pada PAUD harus segera dilakukan, sehingga sistem pembelajaran itu dapat diimplementasikan," kata Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Senin (27/7/2026).

Pernyataan Lestari tersebut merespons penegasan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat pada Rabu (22/7) yang menyebut deep learning sebagai paradigma pembelajaran yang perlu diadopsi dalam sistem pendidikan nasional, termasuk sejak jenjang PAUD.

Berbeda dengan metode yang menitikberatkan pada hafalan, deep learning mendorong peserta didik memahami materi secara lebih mendalam sehingga mampu menganalisis, menerapkan pengetahuan, sekaligus mengembangkan kemampuan berinovasi.

Namun, Lestari mengingatkan bahwa penerapan pendekatan tersebut di PAUD bukan tanpa tantangan.

Salah satu persoalan utama adalah memastikan konsistensi penerapan pembelajaran mendalam dengan tetap memperhatikan minat dan tahap perkembangan setiap anak. Lingkungan belajar juga harus dirancang aman, nyaman, dan mampu membuat setiap peserta didik merasa diterima selama mengikuti proses pembelajaran.

Karena itu, menurut Lestari, pemahaman guru mengenai konsep deep learning masih perlu diperkuat agar pendekatan tersebut tidak berhenti sebagai konsep, tetapi benar-benar diterapkan dalam kegiatan belajar sehari-hari.

Data Pokok Pendidikan (Dapodik) Semester Genap 2025/2026 mencatat terdapat 6.230.051 peserta didik dan 509.359 pendidik PAUD di Indonesia.

Besarnya jumlah peserta didik dan pendidik tersebut menunjukkan bahwa kesiapan tenaga pengajar menjadi faktor krusial dalam keberhasilan transformasi pembelajaran pada jenjang pendidikan paling awal tersebut.

Tantangan itu tercermin dalam studi mengenai persepsi guru terhadap pembelajaran mendalam. Sebanyak 37 persen guru disebut menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan pemahaman, sarana yang belum memadai, minimnya pelatihan, hingga tingginya beban tugas administratif.

Di sisi lain, akses terhadap pendidikan anak usia dini juga masih menjadi pekerjaan rumah.

Data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD untuk anak usia 3-6 tahun baru berada di kisaran 46 persen pada 2026.

Sementara itu, porsi anggaran PAUD masih berada di bawah 2 persen dari total anggaran pendidikan nasional. Angka tersebut masih jauh dari rekomendasi global sebesar 10 persen.

Melihat kondisi tersebut, Lestari menegaskan bahwa perluasan akses pendidikan PAUD harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pembelajaran.

"Peran guru yang didukung oleh orang tua, sangat signifikan untuk melakukan perubahan dalam mewujudkan proses belajar mengajar yang lebih baik," ujar Rerie, sapaan akrab Lestari, yang juga anggota Komisi X DPR RI.

Menurutnya, dukungan terhadap guru tidak cukup hanya melalui peningkatan kompetensi. Pemerintah juga perlu memastikan tersedianya sarana dan prasarana yang memadai serta mengurangi beban administrasi yang berlebihan.

Dengan begitu, guru dapat lebih banyak mencurahkan energi untuk mendampingi anak, mengembangkan potensi mereka, serta menciptakan proses pembelajaran yang berkualitas.

Rerie menilai esensi deep learning pada dasarnya adalah membangun pendidikan yang holistik. Guru tidak hanya dituntut menyampaikan materi, tetapi juga harus mampu merespons rasa ingin tahu anak sekaligus menumbuhkan kemandirian dalam belajar.

Pendekatan tersebut dinilai penting karena PAUD merupakan salah satu fondasi dalam membentuk kemampuan anak sebelum memasuki jenjang pendidikan berikutnya.

Rerie meyakini penerapan deep learning sejak usia dini dapat menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia agar lebih tangguh, adaptif, kreatif, dan memiliki daya saing di masa depan.

Menurutnya, pendidikan harus dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi bangsa. Setiap anak memiliki potensi untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik apabila mendapatkan lingkungan belajar dan dukungan yang tepat.

"Optimisme itu harus diwujudkan melalui kolaborasi erat antara pemerintah, guru, orang tua, dan seluruh pemangku kepentingan, agar pendidikan yang bermakna dapat dinikmati oleh seluruh anak Indonesia," pungkas Rerie.

Dengan demikian, penerapan deep learning di PAUD bukan sekadar perubahan metode belajar. Lebih dari itu, transformasi tersebut membutuhkan kesiapan guru, dukungan keluarga, fasilitas yang memadai, kebijakan yang tepat, serta komitmen bersama agar setiap anak memperoleh kesempatan tumbuh dan belajar secara optimal.


Tinggalkan Komentar