telusur.co.id - Anggota Komisi X DPR RI, Zainuddin Maliki menanggapi keterkejutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim soal kesulitan guru melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di tengah pandemik Covid-19, akibat sulitnya akses internet dan TV bahkan ada yang belum menikmati listrik.
Zainuddin mengatakan, memang belum semua daerah bisa dipacu dengan penggunaan teknologi. Itu adalah fakta lama.
"Mendikbud seharusnya tidak perlu terkejut. Jika demikian sebaiknya turun ke lapangan supaya tahu kondisi real yang menjadi tantangan di bawah," kata Zainuddin dalam keterangan persnya, Senin (4/5/20).
Zainuddin mengungkapkan, tentu disadari saat ini kita tengah menghadapi wabah Covid-19, tidak gampang pergi ke daerah. Tetapi mengingat situasi ini diasumsikan akan berlangsung lama, dibutuhkan kebijakan yang komperhensif dan mengena.
"Menggunakan privilege sebagai Menteri, dengan tetap jaga protokol kesehatan, akan sangat bermanfaat jika bisa melihat dan merasakan sendiri apa yang terjadi di bawah," ujar Anggota Fraksi PAN DPR RI itu.
Menurutnya, siswa didik yang berada di daerah terpinggirkan tidak hanya membutuhkan perhatian, tetapi juga empati. Empati akan mudah muncul jika bisa melihat sendiri kisah sedih seperti yang dialami Intan Melani (11), anak yatim dari keluarga miskin di Padangsidimpuan, yang rela jalan 3 km hanya agar bisa numpang belajar online.
Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya ini mengungkapkan, dengan pendekatan partisipatoris atau hadir dengan melihat masyarakat di daerah terisolir, maka akan mudah membangun empati terhadap kesulitan yang mereka hadapi. Lebih dari itu akan bisa dibuat kebijakan yang komprehensif, kontekstual dan tidak bias perkotaan.
"Bias kota itu terasa, misalnya ketika memperingati Hardiknas kemarin," jelasnya.
"Najwa Shihab dan artis papan atas Jakarta yang diberi panggung. Padahal di tengah kesulitan menghadapi Covid-19, terutama mereka yang terpinggirkan, tidak akan banyak merasakan makna konser bertabur bintang itu," tambahnya.
Menurut dia, jauh lebih relevan jika acara penting seperti peringatan Hardiknas diisi dengan acara yang lebih bermakna. Misalnya, memberi panggung siswa seperti Intan Melani dari Padangsidimpuan, guru dan dosen yang tengah kelimpungan kehabisan pulsa. Orang tua ter-PHK yang harus menanggung beban kelangsungan pendidikan anak-anaknya.
"Jauh lebih bermakna dengan memberi panggung lembaga-lembaga kursusnya pegiat pendidikan non-formal yang kalah bersaing dengan platform yang dekat penguasa, dosen penemu alat medis dan vaksin pembunuh corona, atau guru-guru honorer yang tengah berusaha sekuat tenaga untuk bisa survive dihempas Covid-19," pungkasnya. [Tp]



