Dubes Prancis Tegaskan Negaranya Tak Menolak Islam - Telusur

Dubes Prancis Tegaskan Negaranya Tak Menolak Islam


telusur.co.id -Duta Besar Prancis untuk Indonesia dan Timor Timur, Olivier Chambard menegaskan, negaranya tidak menentang Islam, justru Prancis melindungi semua agama. 

Hal itu disampaikan Chambard menanggapi kontroversi penerbitan karikatur Nabi Muhammad SAW oleh majalah satire, Charlie Hebdo.

"Kesalahpahaman datang dari fakta bahwa beberapa Muslim berpikir bahwa Prancis melawan Islam karena Prancis mendukung karikatur (Nabi Muhammad). Ini bukanlah yang sebenarnya terjadi," ujar Chambard, Senin (9/11/20).

Chambard menjelaskan, di Prancis, kritisisme atau membuat lelucon tentang agama, tidak dapat dikategorikan sebagai tindak pidana. 

Namun, penuntutan dapat dilakukan apabila terdapat pihak atau individu yang menyerukan untuk membunuh dan membenci. Chambard mengaku memahami bila terdapat pihak yang terluka akibat penerbitan karikatur Nabi Muhammad SAW. "Tapi kita tidak dapat menuntutnya," ujarnya.

Chambard mengatakan telah membaca di jejaring sosial dan surat kabar bahwa sekularisme Prancis menentang Islam. Dia menegaskan bahwa sekularisme Prancis, ketika itu bermula, tidak ada Islam di negara tersebut. "Jadi berpikir bahwa sekularisme Prancis menentang Islam tidak masuk akal," ujarnya.

Ia menjelaskan sekularisme telah terbentuk sejak Revolusi Prancis pada akhir abad ke-18. Awalnya, Prancis adalah negara penganut Katolisisme. Namun hal tersebut mempersulit agama lainnya. "Jadi jika Anda memikirkan satu hal tentang sekularisme Prancis, setiap orang bebas untuk memeluk agama apa saja, apakah itu Katolik, Protestan, Islam, Hindu, Yahudi," kata Chambard.

Sebagai negara sekuler, Prancis tidak melarang praktik keagamaan tertentu. Misalnya, wanita Muslim diizinkan menggunakan hijab atau kerudung. Namun dalam hal pelayanan publik, simbol-simbol agama tidak diperkenankan.

"Sebagai aparatur sipil, Anda tidak boleh, jika Anda wanita (Muslim) menggunakan kerudung. Jika Anda Yahudi menggunakan kipah. Itu karena negara adalah netral, tidak mendukung satu negara daripada yang lain," tukasnya.[Fhr]

 

 


Tinggalkan Komentar