telusur.co.id - Ketidakpastian menyelimuti upaya diplomasi terbaru antara Iran dan Amerika Serikat. Pemerintah Iran menyatakan belum mengambil keputusan terkait partisipasi dalam putaran baru negosiasi yang direncanakan berlangsung di Islamabad, dengan mediasi Pakistan.
Dilansir kantor berita tasnim, Selasa (21/4/2026), Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, dalam konferensi pers terbarunya menegaskan bahwa Teheran masih menimbang langkah berikutnya. Ia menyoroti sikap Washington yang dinilai tidak konsisten antara pernyataan diplomatik dan tindakan di lapangan.
Menurut Baqaei, sejak awal gencatan senjata, Iran justru menghadapi apa yang ia sebut sebagai “itikad buruk” dari AS. Salah satu contoh yang disorot adalah perbedaan interpretasi mengenai cakupan gencatan senjata, khususnya terkait Lebanon—yang menurut Pakistan termasuk dalam kesepakatan, namun dibantah oleh pihak Amerika.
Ketegangan semakin meningkat setelah dugaan serangan terhadap kapal dagang Iran di Selat Hormuz. Iran menganggap insiden tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap gencatan senjata dan bentuk agresi langsung.
“Iran tidak bisa mengabaikan pengalaman pahit setahun terakhir,” tegas Baqaei. Ia bahkan menuduh AS telah “mengkhianati diplomasi dua kali,” merujuk pada serangkaian tindakan militer yang dianggap merusak kepercayaan.
Konflik ini sendiri dipicu oleh peristiwa besar pada 28 Februari, termasuk terbunuhnya tokoh penting Iran, Ali Khamenei, yang memicu eskalasi militer besar antara Iran, AS, dan sekutunya, termasuk Israel. Serangan udara besar-besaran diikuti dengan balasan Iran berupa rudal dan drone ke berbagai target strategis.
Meski pertempuran telah mereda sejak gencatan senjata 8 April, situasi tetap rapuh. Iran kini berada di persimpangan: melanjutkan jalur diplomasi atau bersiap menghadapi kemungkinan konflik baru.
Keputusan Teheran dalam beberapa hari ke depan diperkirakan akan sangat menentukan arah stabilitas kawasan—dan mungkin juga dunia.



