telusur.co.id -Kompetisi usia muda nasional, Elite Pro Academy (EPA) Super League 2025/2026 resmi berakhir. Bertempat di Garudayaksa Football Academy, Setu, Kabupaten Bekasi, putaran final tiga kategori kelompok usia dari EPA Super League antara lain U-16, U-18, dan U-20 telah menghasilkan juaranya masing-masing. Persik Kediri U-16 sukses meraih gelar juara EPA U-16 usai kalahkan Persis Solo pada Sabtu (15/5) .
Sementara itu, Malut United U-18 menyabet juara usai mengandaskan perlawanan Persija U-18 lewat drama adu penalti. Di sisi lain, Persija U-20 membalaskan dendam juniornya dengan menjadi juara EPA U-20 usai mengalahkan Malut United 1-0, Minggu (17/5).
Direktur Kompetisi I.League Asep Saputra mengakui masih banyak pekerjaan rumah dalam pelaksanaan kompetisi Elite Pro Academy (EPA) Super League musim 2025/2026. Evaluasi menyeluruh pun tengah dilakukan demi meningkatkan kualitas kompetisi usia muda di Indonesia.
Asep menilai pembinaan tidak hanya berfokus pada aspek teknis permainan, tetapi juga menyangkut sikap profesionalisme dan sportivitas seluruh elemen yang terlibat dalam kompetisi muda bergengsi tersebut.
“Saya pikir ini masih menjadi PR besar kita, tentu tidak hanya klub, tapi I.League juga, para ofisial juga, perangkat pertandingan, penonton dan lain-lain untuk bisa kembali kepada tujuannya, di usia muda harus juga dipupuk, dibina, bagaimana bersikap profesional, menghindari yang namanya melanggar sportivitas dan fair play dan mudah-mudahan akan lebih baik di musim-musim yang akan datang,” kata Asep saat ditemui awak media usai final EPA Super League U-20, dikutip dari Antara, Minggu (17/5).
Pernyataan itu disampaikan menyusul sejumlah insiden disiplin yang sempat mencoreng jalannya kompetisi EPA musim ini. Salah satu yang menjadi sorotan terjadi pada laga kelompok usia U20 antara Bhayangkara Presisi Lampung kontra Dewa United Banten di Stadion Citarum, Semarang, 19 April lalu.
Dalam pertandingan tersebut terjadi kericuhan pada akhir laga. Pemain Bhayangkara sekaligus penggawa Timnas Indonesia U17, Fadly Alberto Hengga, melakukan tendangan bergaya kungfu kepada pemain Dewa United, Rakha Nurkholis. Insiden itu sempat memancing emosi kedua tim sebelum akhirnya kedua pemain sepakat berdamai. Para pelaku pun telah dijatuhkan hukuman oleh Komisi Disiplin (Komdis) PSSI.
Menurut Asep, I.League akan memperkuat kampanye sportivitas sekaligus mempertegas penerapan hukuman disiplin agar memberikan efek jera bagi pelanggar.
“Ketika bertemu dalam satu forum bicara campaign-campaign-nya juga kita harus perkuat, perketat, hukumannya juga tentu yang sesuai dengan kode disiplin yang ada. Kita harapkan itu memberikan efek jerak juga, meskipun kita tetap mempertimbangkan sisi development dalam rentang usia ini,” ujarnya.
Selain evaluasi terkait disiplin, I.League juga tengah menggodok perubahan format kompetisi EPA untuk musim mendatang. Sejumlah opsi disebut sedang dipertimbangkan guna menyesuaikan kebutuhan pembinaan dan efisiensi kompetisi, terutama bagi klub-klub di luar Pulau Jawa.
“Misalnya mix dalam hal format, ada ‘round-robin’, bisa dikombinasikan dengan ‘swiss’ misalnya, atau juga tadi ‘home and away’ dikombinasikan dengan ‘centralized’ dengan series kalau untuk yang daerah yang misalkan di luar Jawa. Sekali lagi, 70 persen sedang kita godok, mudah-mudahan dalam waktu dekat juga kita akan bagi informasinya kepada semua klub,” jelas Asep.



