telusur.co.id - Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Erna Sari Dewi, menyatakan dukungannya terhadap rencana pembangunan kolam retensi di kawasan Nanga-Nanga, Kota Kendari. Namun, ia mengingatkan adanya persoalan serius terkait ketidaksesuaian tata ruang yang berpotensi menghambat proyek tersebut.
Dalam kunjungan kerja reses pada Rabu (22/4/2026), Erna mengungkapkan bahwa secara perencanaan, lokasi proyek sebenarnya sudah tepat karena berada di koridor sungai sesuai RTRW dan RDTR. Meski demikian, kondisi di lapangan menunjukkan fakta berbeda.
Dari total sekitar 45 hektare lahan yang direncanakan, sekitar 37 hektare di antaranya kini telah berubah menjadi kawasan padat pemukiman padahal zona tersebut seharusnya steril dari hunian.
“Lokasinya sudah benar, berada pada koridor sungai. Tapi dari 45 hektare itu, 37 hektare ternyata sudah menjadi pemukiman padat. Padahal zona koridor sungai seharusnya tidak boleh ada hunian,” ujar Erna.
Ia menilai kondisi ini mencerminkan lemahnya implementasi dokumen Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) di masa lalu, sehingga menimbulkan tantangan besar dalam realisasi proyek yang telah berjalan selama enam tahun tersebut.
Erna juga menyoroti belum adanya langkah relokasi warga secara bertahap, padahal waktu pelaksanaan tahap lanjutan proyek dinilai semakin terbatas. Tanpa solusi konkret, ia khawatir pembangunan kolam retensi tidak dapat berjalan optimal.
“Relokasi belum dilakukan secara bertahap, sementara waktunya sangat singkat. Ini yang harus segera diselesaikan,” tegasnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, ia mendorong koordinasi intensif antara pemerintah daerah, baik kota maupun provinsi, dengan dukungan Komisi V DPR RI. Menurutnya, semua pihak harus duduk bersama untuk mencari jalan keluar agar proyek tetap berjalan sesuai target.
Meski demikian, Erna menegaskan bahwa pembangunan kolam retensi tetap sangat penting, terutama untuk mengatasi persoalan banjir yang kerap melanda kawasan Nanga-Nanga.
“Saya mendukung pembangunan kolam retensi ini karena sangat dibutuhkan untuk penanganan banjir,” pungkasnya.
Proyek ini pun menjadi ujian bagi sinkronisasi antara perencanaan tata ruang dan realitas pembangunan di lapangan sekaligus langkah krusial dalam upaya menghadirkan solusi jangka panjang bagi masalah banjir di Kendari.



