telusur.co.id - Menteri Kebudayaan Fadli Zon menerima audiensi jajaran UNIMA Indonesia di kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta, membahas persiapan peringatan Hari Wayang Dunia 2026 yang dijadwalkan pada 24–26 April 2026 di Yogyakarta.
Dalam pertemuan tersebut, Menbud Fadli Zon menyampaikan apresiasi atas inisiatif penyelenggaraan kegiatan yang dinilai penting untuk keberlanjutan seni pewayangan Indonesia. “Saya menyambut baik inisiatif ini, karena upaya pelestarian Wayang Indonesia adalah tugas dan tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.
Presiden UNIMA Indonesia, Dimas Samodra Rum, memaparkan bahwa rangkaian kegiatan akan menghadirkan berbagai ekspresi seni pewayangan, mulai dari pertunjukan wayang klasik, wayang langka yang terancam punah, hingga karya kontemporer dan eksperimental. Selain pertunjukan, kegiatan juga mencakup seminar kebudayaan, ruang temu seniman, pameran karya budaya, serta pelibatan pelaku UMKM berbasis tradisi.
Menbud Fadli Zon menekankan pentingnya menjaga ragam jenis wayang yang luar biasa beragam, termasuk Wayang Wahyu, Wayang Sukha, Wayang Krucil, dan varian lainnya. “Wayang memiliki beragam jenis yang harus dijaga dan dilestarikan bersama,” tambahnya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen UNIMA dalam jaringan global untuk menginisiasi peringatan Hari Wayang Dunia setiap tahun, dengan penyesuaian waktu pelaksanaan di Indonesia agar partisipasi publik lebih luas.
Wayang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia sejak 2003, menegaskan nilai universalnya sebagai sistem pengetahuan, ekspresi seni, sekaligus refleksi kebijaksanaan budaya yang hidup di masyarakat.
Turut hadir mendampingi Menbud Fadli Zon adalah Staf Ahli Menteri Kebudayaan Bidang Hubungan Antar Lembaga, Ismunandar; serta Direktur Warisan Budaya, I Made Dharma Sutedja.
Menbud Fadli Zon menutup pertemuan dengan menegaskan dukungan pemerintah terhadap penyelenggaraan Hari Wayang Dunia 2026 dan komitmen berkelanjutan dalam pemajuan seni pewayangan melalui kebijakan, fasilitasi, dan kolaborasi lintas sektor. Upaya pelestarian wayang tidak hanya melalui seremonial, tetapi juga penguatan ekosistem pewayangan, regenerasi seniman, dan dukungan terhadap komunitas serta sanggar di berbagai daerah agar wayang tetap relevan dan bermakna bagi generasi mendatang. [ham]



