Iran-AS Capai Kemajuan dalam Putaran Kedua Negosiasi Nuklir di Jenewa - Telusur

Iran-AS Capai Kemajuan dalam Putaran Kedua Negosiasi Nuklir di Jenewa

Menteri Luar Negeri Seyed Abbas Araghchi. foto ist

telusur.co.id - Menteri Luar Negeri Seyed Abbas Araghchi menyampaikan bahwa pembicaraan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat mengenai isu nuklir berlangsung serius dan konstruktif di Jenewa, Selasa. Menurutnya, kedua pihak telah bertukar gagasan dan merumuskan prinsip-prinsip dasar yang akan memandu upaya menuju potensi kesepakatan nuklir.

“Saya dapat mengatakan bahwa pada putaran ini, dibandingkan dengan yang terakhir, kami mengangkat isu-isu yang benar-benar serius… akhirnya kami menemukan jalur strategis yang akan kami ikuti untuk mencapai teks kesepakatan yang mungkin,” kata Araghchi. Ia menekankan, meski prinsip-prinsip telah ditetapkan, hal itu tidak otomatis menjamin tercapainya kesepakatan akhir. Jadwal putaran berikutnya masih akan ditentukan setelah pertukaran teks kesepakatan antara kedua pihak.

Putaran kedua yang digelar di Kedutaan Besar Kesultanan Oman berlangsung melalui mediasi Oman, dengan agenda yang terbatas pada isu nuklir dan pencabutan sanksi AS. Teheran menegaskan bahwa pengayaan uranium tetap menjadi hak kedaulatan dan tidak bisa dinegosiasikan. Seorang pejabat senior Iran menambahkan bahwa efektivitas negosiasi sangat tergantung pada keseriusan Washington mencabut sanksi dan menghindari tuntutan yang dianggap tidak realistis.

Araghchi juga menyebut diskusi mengenai potensi peran International Atomic Energy Agency (IAEA) dalam proses negosiasi. “Iran selalu siap untuk terlibat dalam negosiasi yang bermakna dan berorientasi pada hasil,” ujarnya pada Konferensi Perlucutan Senjata di Jenewa.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Oman, Badr bin Hamad al-Busaidi, menekankan bahwa suasana pertemuan konstruktif dan terdapat kemajuan dalam menetapkan tujuan bersama serta isu-isu teknis yang relevan. Ia juga menghargai kontribusi Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, dan menegaskan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan sebelum pertemuan berikutnya.

Pembicaraan ini menunjukkan langkah nyata kedua negara untuk menemukan kesepakatan yang konstruktif, meski tantangan terkait sanksi dan pengayaan uranium tetap menjadi isu utama. [ham]


Tinggalkan Komentar