telusur.co.id -Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan, negaranya siap untuk mempertahankan perang agresi AS-Israel yang sedang berlangsung untuk jangka waktu yang lama. Teheran, bahkan siap berperang setidaknya selama enam bulan.
Dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera di Teheran, dikutip oleh Kantor Berita Tasnim, Rabu (1/4/2026), Araqchi menggarisbawahi tekad Iran untuk membela diri tanpa mempedulikan tenggat waktu yang ditetapkan oleh musuh-musuh. Iran akan melanjutkan perang selama diperlukan dan memperingatkan bahwa pasukannya tetap mampu mempertahankan operasi yang berkepanjangan.
Menanggapi pertanyaan tentang klaim di Amerika Serikat bahwa negosiasi sedang berlangsung dan Iran telah menerima persyaratan AS, ia mengatakan bahwa negosiasi dalam terminologi hubungan internasional memiliki definisi khusus, mengacu pada situasi di mana dua negara duduk bersama dan terlibat dalam pembicaraan untuk mencapai kesepakatan, yang, ia tekankan, saat ini tidak ada antara Iran dan Amerika Serikat.
Dia menambahkan bahwa negara-negara terkadang berkomunikasi melalui pertukaran pesan, baik secara langsung maupun tidak langsung, tetapi ini tidak disebut negosiasi.
Namun, ia mencatat bahwa pertukaran pesan semacam itu memang ada antara Iran dan AS. Iran menerima pesan dari AS—beberapa secara langsung dan beberapa melalui teman-teman regional—dan merespons bila perlu.
Ia menekankan bahwa belum ada negosiasi yang terjadi sejauh ini dan klaim dalam hal ini tidak benar. Meskipun pertukaran pesan terkadang mencakup peringatan atau poin yang diangkat oleh kedua belah pihak, hal itu bukan merupakan negosiasi, meskipun prosesnya terus berlanjut.
Ketika diminta untuk mengklarifikasi apa yang dimaksudnya dengan pertukaran pesan langsung, ia mengatakan bahwa pertukaran dilakukan melalui perantara, dan mencatat bahwa, seperti di masa lalu, Steve Witkoff terus mengirim pesan kepadanya secara langsung. Tetapi, tegas dia, ini bukanlah negosiasi, melainkan bentuk komunikasi yang dapat terjadi baik dalam keadaan damai maupun perang dan saat ini sedang berlangsung.
Menanggapi klaim di AS bahwa mungkin ada banyak saluran atau faksi di Iran yang berkomunikasi dengan Washington, Araqchi menolak hal ini mentah-mentah. Itu sama sekali tidak benar.
Ia menjelaskan, semua pesan yang dipertukarkan dilakukan melalui saluran resmi Kementerian Luar Negeri atau dengan sepengetahuan kementerian tersebut. Kendari dinas keamanan mungkin juga memiliki kontak, semua itu terjadi dalam kerangka kerja yang telah ditentukan di bawah pemerintah dan pengawasan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, dengan manajemen terpadu dan tanpa banyak pusat pengambilan keputusan.
Mengenai klaim bahwa Iran telah menanggapi proposal AS yang terdiri dari 15 poin, Araqchi mengatakan bahwa belum ada tanggapan yang diberikan terhadap rencana tersebut.
Ia juga menepis laporan bahwa Iran telah mengajukan lima syarat, menyebutnya sebagai spekulasi media, dan menegaskan kembali bahwa belum ada tanggapan yang diberikan terhadap proposal AS tersebut.
Mengenai keadaan diplomasi, Iran belum mengambil keputusan dan masih banyak pertimbangan yang perlu dilakukan. Karena, syarat-syarat Iran untuk mengakhiri perang sudah sangat jelas.
Iran tidak menerima gencatan senjata dan sebaliknya menginginkan pengakhiran perang sepenuhnya, tidak hanya di Iran tetapi di seluruh wilayah, beserta jaminan untuk mencegah terulangnya perang dan kompensasi atas kerusakan yang diderita rakyat. Ia menekankan bahwa posisi Iran sudah sangat jelas.
Ketika ditanya dalam kondisi apa negosiasi dapat terwujud, Araqchi mengatakan bahwa langkah ini akan bergantung pada keputusan pimpinan tertinggi Iran jika mereka menentukan bahwa kepentingan rakyat akan terlayani, dan pada saat itu instruksi yang diperlukan akan diberikan kepada badan-badan eksekutif, termasuk Kementerian Luar Negeri.
Tujuan Iran adalah untuk mengamankan kepentingan dan hak-hak rakyatnya, yang saat ini sedang diupayakan melalui pertahanan terhadap agresi asing, khususnya oleh AS dan Israel, dan bahwa alat-alat lain dapat digunakan jika dianggap perlu.
Mengenai apakah kekhawatiran akan diserang selama negosiasi menghambat pembicaraan, Araqchi mengatakan situasi saat ini sudah melibatkan serangan yang sedang berlangsung, dan mengakui bahwa kekhawatiran tersebut valid. Iran tidak memiliki pengalaman positif dalam bernegosiasi dengan AS. Ia mencatat, kesepakatan sebelumnya ditinggalkan oleh AS tanpa alasan dan bahwa negosiasi tahun lalu dan tahun ini diikuti oleh serangan.
Ia menyimpulkan bahwa tidak ada kepercayaan untuk mencapai hasil melalui negosiasi dan menggambarkan tingkat kepercayaannya Iran terhadap AS, nol.
Ia menambahkan bahwa setiap kali proposal negosiasi diajukan, masalah pertama adalah menilai ketulusan pihak lain, dan Iran tidak melihat ketulusan saat ini. Dia menekankan bahwa langkah-langkah besar akan diperlukan untuk membangun kembali kepercayaan.
Untuk jaminan, Araqchi mengatakan bahwa jaminan dari satu atau dua negara tidaklah cukup dan bahkan pengalaman Dewan Keamanan PBB menunjukkan bahwa jaminan tersebut tidak memadai.
Negara-negara sahabat telah mengajukan gagasan tentang bagaimana memastikan pengakhiran perang yang lengkap dan langgeng, dan Iran sedang meneliti gagasan-gagasan tersebut untuk menentukan jaminan apa yang efektif jika perang berakhir sesuai dengan kondisi yang diusulkan.
Mengenai ancaman serangan terhadap infrastruktur dan sumber daya energi Iran, Araqchi mengatakan, Iran telah berulang kali diuji dan tidak takut terhadap ancaman. Keamanan dan hak-hak rakyat Iran adalah prioritas dan tidak ada yang dapat memaksakan tenggat waktu kepada Iran.
Ia menambahkan bahwa tenggat waktu buatan hanya memperumit masalah dan mencatat bahwa tenggat waktu tersebut telah diperpanjang dua kali.
Trump harus secara mendasar mengubah pendekatannya. Karena, rakyat Iran tidak bisa didekati dengan ancaman dan ultimatum, tetapi harus diajak bicara dengan hormat, jika tidak mereka akan merespons di lapangan.
Mengenai Selat Hormuz, Araqchi mengatakan selat tersebut terletak di perairan pedalaman Iran dan Oman, bukan perairan internasional. Dan oleh karena itu kepentingan kedua negara harus dipertimbangkan.
Ia menyatakan bahwa selat tersebut saat ini terbuka tetapi tertutup bagi kapal-kapal dari negara-negara yang sedang berperang dengan Iran. Di masa perang, Iran tidak dapat mengizinkan musuh-musuh untuk menggunakan perairan pedalamannya.
Ia mencatat bahwa kapal-kapal dari negara lain telah menahan diri untuk tidak melewati selat tersebut karena ketidakamanan dan biaya asuransi yang tinggi, sementara beberapa negara telah melakukan pembicaraan dengan Iran dan pengaturan telah dibuat untuk jalur aman, terutama untuk negara-negara sahabat.
Ia mengatakan bahwa pengaturan pasca-perang akan ditentukan oleh Iran dan Oman, dengan mempertimbangkan kepentingan teman-teman mereka di kawasan dan sekitarnya, dan menggambarkan selat tersebut sebagai potensi "jalur air perdamaian" yang membutuhkan mekanisme bersama antara negara-negara pesisir untuk memastikan keamanan, navigasi, dan perlindungan lingkungan.
Mengenai ancaman serangan terhadap pulau-pulau atau invasi darat, Araqchi mengatakan Iran siap dan tidak percaya bahwa musuh-musuhnya akan berani melakukan tindakan tersebut. Karena korban jiwa yang akan mereka timbulkan sangat besar.
Iran tidak mencari perang dan tidak memulainya, tetapi telah membela diri dengan kuat, menimbulkan kerugian pada peralatan dan fasilitas musuh. Iran bahkan lebih berpengalaman dan dilengkapi dalam peperangan darat dan sepenuhnya siap untuk melawan ancaman semacam itu.
Mengenai kemungkinan perluasan perang ke Bab al-Mandeb dan Laut Merah, Araqchi mengatakan bahwa masalah itu menyangkut negara-negara di kawasan tersebut, khususnya Yaman, yang memiliki kebijakan sendiri, dan mencatat bahwa jika tokoh-tokoh tersebut memutuskan untuk bertindak, itu akan menjadi keputusan mereka sendiri.
Ia menekankan bahwa Iran tidak meminta bantuan dan mampu membela diri, meskipun kelompok-kelompok regional mungkin memilih untuk bertindak secara independen.
Mengenai apakah berakhirnya perang akan mencakup seluruh wilayah, Araqchi mengatakan bahwa dari perspektif Iran, mengakhiri perang harus mencakup seluruh wilayah, termasuk Iran, Lebanon, Irak, dan Yaman. Iran menginginkan perdamaian di seluruh wilayah tersebut.
Ketika ditanya apakah kelompok-kelompok tersebut siap bernegosiasi dengan AS, Araqchi mengatakan bahwa saat ini tidak ada rencana untuk bernegosiasi dan hal ini akan dipertimbangkan jika keputusan dibuat di masa mendatang.
Mengenai tenggat waktu yang disebutkan oleh AS terkait durasi perang, Araqchi mengatakan Iran tidak menetapkan tenggat waktu untuk pertahanannya dan akan terus berlanjut selama diperlukan dan dengan cara apa pun yang dibutuhkan untuk membela negara dan rakyat. Iran tidak peduli dengan tenggat waktu yang ditetapkan oleh musuh-musuh, tetapi menyarankan mereka untuk mengakhiri perang sepenuhnya dan secara permanen sebelum mengalami kerugian lebih lanjut.
Ketika ditanya apakah Iran siap untuk perang selama enam bulan, Araqchi menjawab bahwa Iran siap setidaknya selama enam bulan.
Menanggapi klaim AS bahwa sistem rudal regional telah menjadi sasaran, Araqchi mempertanyakan dari mana rudal dan drone yang diluncurkan ke arah mereka berasal. Sebuah AWACS telah dihancurkan dalam dua hari terakhir oleh drone Iran berbiaya rendah.
Ia mengatakan klaim tersebut merupakan bagian dari kampanye propaganda AS dan tidak boleh dianggap serius. Kini dunia menyadari realita yang ada dan bahwa serangan Iran terus berlanjut secara stabil, sementara pihak lawan gagal menghentikannya atau membuka kembali Selat Hormuz meskipun telah meminta bantuan dari negara lain. Mereka sekarang menyerukan negosiasi, dan menekankan bahwa realita di lapangan menunjukkan kemampuan pertahanan Iran tetap utuh dan serangannya terus berlanjut dengan kuat.
Mengenai potensi negosiasi, Araqchi mengatakan Iran saat ini belum memiliki rencana, tetapi akan menetapkan prioritas jika tahap itu tercapai.
Menanggapi kekhawatiran di negara-negara regional tentang serangan Iran, Araqchi mengatakan, Iran tidak menargetkan negara-negara sahabat, melainkan pasukan dan fasilitas AS yang berada di negara-negara tersebut, yang digunakan untuk melancarkan serangan terhadap Iran. Ia mengakui bahwa kerusakan tambahan mungkin terjadi, tetapi target yang dimaksud adalah sasaran AS. Ada banyak bukti bahwa AS menggunakan wilayah dan ruang udara negara-negara tersebut, termasuk penggunaan rudal HIMARS dan operasi pengisian bahan bakar dari pangkalan regional.
Araqchi menambahkan, Iran hanya menargetkan lokasi yang terkait dengan AS, termasuk situs yang menyediakan layanan kepada pasukan AS atau tempat mereka ditempatkan. Apalagi media AS telah mengakui bahwa pasukan Amerika tinggal di hotel, secara efektif menggunakan warga sipil di wilayah Teluk Persia sebagai perisai manusia.
Ia menyatakan bahwa perang tersebut dipicu oleh AS dan Israel yang menggunakan pangkalan regional mereka dan mempertanyakan mengapa negara-negara regional tidak mengutuk agresi AS, melainkan mengkritik Iran karena membela diri.
Araqchi menekankan rasa hormat Iran terhadap negara-negara regional dan kepemimpinan mereka, membandingkannya dengan perilaku tidak hormat oleh para pejabat AS, dan menegaskan kembali keinginan Iran untuk menjalin hubungan yang saling menghormati dan bersahabat.
Mengenai masa depan hubungan Iran dengan kawasan tersebut, Araqchi mengakui bahwa membangun kembali kepercayaan akan sulit, tetapi menyatakan keyakinannya bahwa, mengingat niat baik Iran, perilaku negara-negara Arab, dan tujuan bersama, kepercayaan dapat dipulihkan. Keamanan regional, khususnya di Teluk Persia, harus dijamin oleh negara-negara regional itu sendiri. Keberadaan pangkalan AS justru merusak keamanan.
Ia mengatakan negara-negara regional harus mempertanyakan mengapa pangkalan AS gagal memberi mereka keamanan dan menekankan perlunya pendekatan kolektif terhadap keamanan, serta kemakmuran dan kemajuan bersama.
Ia menyimpulkan bahwa mencapai keamanan yang langgeng membutuhkan pengurangan ketergantungan pada kekuatan asing dan sebagai gantinya mengandalkan kerja sama regional.[Nug]



