telusur.co.id - Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan darurat atas permintaan Amerika Serikat untuk membahas situasi di Iran, menyusul kerusuhan kekerasan yang menelan korban jiwa baik dari warga sipil maupun aparat keamanan.
Dalam forum tersebut, wakil perwakilan tetap Iran untuk PBB, Gholamhossein Darzi, menuding ISIS sebagai dalang di balik aksi kekerasan selama protes. Ia juga menuduh Washington terlibat langsung dalam mengarahkan kerusuhan menuju kekerasan.
“Dengan dalih kosong kepedulian terhadap rakyat Iran dan klaim dukungan terhadap hak asasi manusia, Amerika Serikat berusaha menggambarkan dirinya sebagai teman rakyat Iran — sementara secara bersamaan meletakkan dasar untuk destabilisasi politik dan intervensi militer,” ujar Darzi.
Darzi menegaskan bahwa Iran tidak mencari konfrontasi, namun akan merespons setiap bentuk agresi dengan tegas dan proporsional sesuai Pasal 51 Piagam PBB. Ia menekankan bahwa pernyataannya bukan ancaman, melainkan penegasan hak hukum Iran untuk membela diri.
Sementara, Wakil duta besar Sun Lei memperingatkan bahwa “awan perang sedang berkumpul” di Timur Tengah. Ia menyerukan Washington untuk meninggalkan ancaman penggunaan kekuatan, menekankan bahwa tindakan militer hanya akan memperdalam ketidakstabilan.
Perwakilan Vassily Nebenzia menuduh AS berupaya membenarkan intervensi militer dengan tujuan menggulingkan rezim yang tidak diinginkan. Ia menilai Washington menggunakan narasi ini untuk memberi legitimasi pada tindakannya.
Penasihat Keamanan Nasional AS Mike Waltz menegaskan kembali posisi garis keras pemerintahan Trump. Ia menyalahkan pemerintah Iran atas “kesengsaraan ekonomi” rakyatnya dan menekankan bahwa “semua opsi ada di meja” terkait langkah Washington terhadap Teheran. [ham]




