telusur.co.id - Kejadian dugaan persekusi hingga menyebut "kafir" terhadap seorang kader Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama di Pondok Pinang, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu menuai kecaman.
Intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU) Mohamad Guntur Romli menyesalkan kejadian tersebut. Menurutnya, hal itu adalah provokasi yang jahat dan berbahaya.
"Ini provokasi yang jahat dan bahaya, apalagi melibatkan isu SARA," tegas Guntur di akun Twitter-nya, Rabu (11/10/19).
Atas hal tersebut, politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini meminta aparat kepolisian segera mengambil tindakan tegas terhadap oknum yang telah mengintimidasi anggota Banser itu.
"Untuk antisipasi berkembangnya isu ini lebih liar, Polisi perlu segera bertindak @DivHumas_Polri @TMCPoldaMetro," cuit Guntur Romli.
Sebelumnya, beredar rekaman video dua orang kader Banser NU Kota Depok bernama Eko dan Wildan dipersekusi.
Dalam rekaman video tampak seorang pria menanyai seorang Banser berseragam. Video direkam dari sudut pandang pria yang bertanya.
Pria tadi memanggil kader Banser NU dengan kata binatang.
“Gue tugas di sini, ngawal Gus Muwafiq,” jawab Eko tenang tapi tegas.
Pria berbaju dan bertopi hitam itu kemudian memaksa Eko untuk mengucapkan kalimat takbir.
Eko menolak dan mempertanyakan maksud pria tersebut memaksa mengucapkan takbir.
Karena penolakan Eko itu, nada bicara pria itu sontak meninggi.
“Lo Islam bukan? Ya udah takbir. Kok buat apa, kafir dong lo,” kata dia.
Dia terus memaksa Eko untuk mengucapkan kalimat takbir. Menurut dia, orang beragama Islam harus takbir.
Eko pun menjawab dengan mengatakan bahwa orang beragama Islam cukup mengucapkan kalimat syahadat.
“Syahadat itu kalau buat yang bukan dari Islam. Lo enggak usah ngajar-ngajarin gue, lo,” ucapnya.
Pria teraebut bahkan mengancam Eko dengan membawa-bawa jawara Betawi.
“Lo enggak bisa pulang lo, enak aja lo. Ngapa lo. Gue cegat lo, semua jawara di sana," ancam pria itu. [Tp]



