telusur.co.id - Kepala Balai Litbang Agama Jakarta, Nurudin Sulaiman mengatakan, aplikasi Sistem Peringatan dan Respon Dini Konflik Keagamaan (Siskama) menjadi ruang penyuluh agama Kementerian Agama untuk memberikan informasi terkait potensi konflik keagamaan di daerahnya masing-masing.
"Kita memiliki aplikasi, yang diharapkan aplikasi ini tidak hanya sebagai instrumen, tetapi aplikasi ini juga merupakan sarana komunikasi untuk memberikan informasi potensi konflik dan tindak lanjut (resolusi) konflik," kata Nurudin dalam kegiatan Pembahasan Modul Kapasitas Aparatur Negara dalam Sistem Peringatan dan Respons Dini Konflik Keagamaan (Siskama) di Hotel Lorin Bogor.
Peneliti senior Univesitas Indonesia Ichsan Malik mengatakan Sistem Peringatan dan Respon Dini Konflik Keagamaan yang dikembangkan BLAJ masih perlu uji coba beberapa tahun sehingga indikatornya akurat dan makin tajam.
“Beberapa negara yang menggunakan sistem seperti ini memerlukan waktu uji coba bertahun-tahun. Karena untuk menganalisis suatu peristiwa tidak mudah. Idealnya, databasenya benar, kemudian analisisnya juga benar. Tapi kadang-kadang kadang-kadang data udah ada, tapi yang menganalisis tidak ada, ya tidak ada gunanya. Analisis ini harus menjadi rekomendasi untuk tindakan respon dini. Perlu dibuat tim khusus menganalisa data dan membuat rekomendasi,” kata Ichsan Malik.
Dia juga mengatakan bila sistem ini bisa berjalan, Indonesia akan memiliki datebase untuk memetakan daerah mana rawan konflik dan daerah yang damai. “Tapi tolong diantisipasinya juga isu-isu berawal dari media sosial, karena di era 4.0 sosial media menjadi dominan. Dan sistem ini juga harus bisa mendeteksi itu. Saya lihat di sistem ini belum ada,” sambung Ichsan Malik. [Ham]



