telusur.co.id - Politikus senior Mahfuz Sidik menilai serangan pendahuluan yang diumumkan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026) waktu setempat, dengan dukungan Amerika Serikat (AS), berpotensi memicu perang kawasan yang lebih luas.
Menurut Mahfuz, pihak yang paling berkepentingan terhadap pecahnya perang tersebut adalah Israel. Ia menyebut Iran sebagai kekuatan militer terbesar yang tersisa di kawasan dan diposisikan sebagai ancaman paling nyata bagi Israel.
“Target operasi militer zionis Israel adalah mewujudkan Israel Raya (The Greater Israel),” ujar mantan Ketua Komisi I DPR periode 2010–2017 itu dalam keterangannya, Minggu (1/3/2026), merujuk pada sejumlah pernyataan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Ia menilai Iran yang dianggap memiliki kemampuan mengembangkan senjata nuklir menjadi penghalang terbesar bagi ambisi tersebut.
Mahfuz juga menyoroti serangan balasan Iran ke Israel dan sejumlah negara Timur Tengah yang menjadi lokasi pangkalan militer AS, seperti Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Irak, Suriah, dan Arab Saudi.
Serangan tersebut, katanya, berpotensi menyeret negara-negara Teluk ke dalam konflik terbuka dan memperluas eskalasi menjadi perang kawasan.
“Kita berharap negara-negara di kawasan Teluk dapat menahan diri untuk tidak terlibat langsung dalam perang ini. Karena apa pun situasinya, yang akan diuntungkan adalah Israel,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa sejumlah negara Arab telah meminta AS untuk tidak menggunakan instalasi militer di wilayah mereka guna menyerang Iran.
Mahfuz yang juga Sekretaris Jenderal Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Gelora) menilai serangan tersebut berpotensi memporak-porandakan proposal perdamaian Presiden AS Donald Trump terkait Gaza.
Ia menyebut langkah militer itu bertabrakan dengan gagasan perdamaian yang diusung melalui Board of Peace (BoP) yang dipimpin Trump. Menurutnya, proposal perdamaian dan rekonstruksi Gaza semestinya diikuti pendekatan resolusi konflik yang menyeluruh di kawasan.
“Tidak logis memadamkan api di satu area, tetapi mengobarkan api di area lain dalam kawasan yang sama. Hal ini hanya akan menimbulkan ketidakpercayaan terhadap ide perdamaian,” katanya.
Mahfuz menegaskan bahwa serangan Israel-AS terhadap Iran, terlebih dilakukan pada bulan suci Ramadan, berpotensi memicu sentimen negatif yang luas di kalangan masyarakat Muslim dunia terhadap Israel dan AS.
Ia menilai aksi penolakan global terhadap agresi militer Israel di Gaza berpotensi kembali menguat akibat eskalasi terbaru tersebut.
“Masyarakat dunia tidak lagi melihat ini sebagai isu senjata nuklir atau dukungan Iran terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina. Yang dipertontonkan adalah ambisi dan agresi yang menjadikan perang sebagai jalan termudah untuk mencapai tujuan,” pungkasnya. [ham]



