telusur.co.id - Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menekankan pentingnya nilai-nilai pegawai dalam meningkatkan kualitas layanan publik, termasuk layanan penggunaan Tenaga Kerja Asing (TKA). Nilai tersebut dimulai dari integritas dan profesionalisme, diikuti dengan kepedulian terhadap persoalan di lapangan, berwujud menjadi pekerjaan yang bermakna, melampaui kewajiban formal, serta semangat kebersamaan di Kemnaker.
"Nilai-nilai ini menjadi fondasi untuk pelayanan publik yang profesional, adil, dan berdampak bagi masyarakat," kata Yassierli dalam keterangannya, Senin (2/2/2026).
Yassierli menekankan konsep Meaningful Work: Beyond the Duty, di mana makna kerja tidak lahir dari jabatan, melainkan dari bagaimana pekerjaan dijalankan setiap hari, baik yang terlihat maupun yang tidak. Dengan melampaui kewajiban formal, seorang aparatur dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
"Ketika dampak itu dirasakan, makna muncul. Hal ini memberi energi, komitmen, dan memperkuat organisasi dalam jangka panjang," ujarnya.
Yassierli juga menyampaikan prinsip Satu Tim, Satu Kapal. Di mana, organisasi harus dipandang sebagai satu kesatuan utuh tanpa keberhasilan parsial. Semua unit diminta menghapus ego sektoral, bekerja kolaboratif, dan memiliki tujuan serta sense of crisis yang sama.
"Kolaborasi harus dikedepankan, bukan kompetisi. Kebersamaan itu indah," tegasnya.
Dalam pengelolaan SDM, Yassierli juga menyoroti prinsip Right Person, Right Position. Penempatan pegawai dilakukan berdasarkan kompetensi, potensi, dan kinerja, dengan integritas dan moralitas sebagai syarat utama. Praktik ini menekankan meritokrasi di atas senioritas, di mana potensi diuji melalui penugasan strategis, proyek penting, atau stretch assignment, serta akses pengembangan diberikan secara adil melalui talent pool, mentoring, dan rotasi lintas fungsi.
"Pendekatan ini meningkatkan keterlibatan, memunculkan talenta tersembunyi, dan memperkuat kepercayaan karena promosi dan penugasan dilakukan secara rasional dan transparan," tukasnya.[Nug]



