telusur.co.id - Partai NasDem merespons keluhan Presiden Joko Widodo mengenai bahan baku obat yang mayoritas impor hingga 95 persen. NasDem sepakat dengan presiden tentang produksi obat agar mengandalkan bahan baku lokal dengan mendorong penguatan riset di bidang obat.
"Kami sambut positif dorongan Presiden tentang produksi obat agar menggunakan bahan-bahan lokal sembari memperkuat riset di bidang obat," kata politisi NasDem Okky Asokawati di Jakarta, Jumat (22/11/19).
Mantan anggota Komisi Kesehatan DPR RI ini menilai, pernyataan Jokowi hendaknya dijadikan momentum untuk mereformasi dalam tata kelola obat nasional dari hulu hingga hilir. "Saya kira saat ini menjadi momentum yang tepat untuk melakukan reformasi tata kelola obat di Indonesia untuk memastikan akses warga terhadap obat aman, murah, dan terjangkau secara luas dengan harga sama se-Indonesia," tegas Okky.
Menurut Okky, langkah simultan harus segera dilakukan dengan mendorong kegiatan riset di bidang obat serta penguatan sumber daya untuk memastikan Indonesia sebagai basis produksi obat dengan mengandalkan 100 persen bahan baku dari dalam negeri.
"Dengan cara ini, harga obat dapat ditekan dan mudah diakses oleh masyarakat," ujarnya..
Selain perbaikan di sisi hulu, model senior ini juga mendorong perubahan tata kelola dalam hal distribusi obat di Indonesia.
Ia menganggap, persoalan tata kelola distribusi obat-obatan di Indonesia juga menjadi pemicu ekses negatif di sektor perobatan di Indonesia. Dia menyebut praktik jual beli obat-obatan ilegal, harga obat yang mahal tak bisa dilepaskan dari tata kelola distribusi obat-obatan.
"Saya kira BPOM dan Kementerian Kesehatan dapat duduk bersama dalam hal tata kelola distribusi obat di Indonesia. Harus dipastikan harga obat murah dan tidak ada lagi peristiwa beredarnya obat ilegal," tandas Okky.
Sebelumnya, Presiden Jokowi menegaskan pelaku industri di dalam negeri untuk menyetop impor bahan baku obat. Menurut laporan yang diterimanya, 95 persen bahan baku obat di dalam negeri masih bergantung pada impor.
"Ini sudah enggak boleh lagi dibiarkan berlama-lama," tegas Jokowi, kemarin.
Sebagai gantinya, mantan gubernur DKI Jakarta itu meminta diberikan skema insentif bagi riset yang menghasilkan temuan obat maupun alat kesehatan terbaru yang kompetitif dibandingkan produk-produk impor.
"Tolong ini digarisbawahi dan selanjutnya hasil riset itu disambungkan dengan industri penghasil alat kesehatan dalam negeri," pintanya.[Asp]



