Netty Prasetiyani Aher Tegaskan Pentingnya Kewaspadaan Nasional terhadap Ancaman Virus Nipah - Telusur

Netty Prasetiyani Aher Tegaskan Pentingnya Kewaspadaan Nasional terhadap Ancaman Virus Nipah

Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher. foto dpr

telusur.co.id - Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, menegaskan pentingnya penguatan kewaspadaan nasional terhadap potensi penularan Virus Nipah, seiring meningkatnya laporan kasus di sejumlah negara serta langkah-langkah antisipatif yang telah mulai dilakukan pemerintah Indonesia.

Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis, yakni penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Reservoir alami virus ini adalah kelelawar buah, dan penularannya dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi maupun konsumsi makanan yang telah terkontaminasi. Infeksi Virus Nipah dapat menimbulkan berbagai gejala, mulai dari demam, sakit kepala, nyeri otot, hingga gangguan serius seperti peradangan otak yang berujung pada koma.

“Saat ini belum terdapat kasus terkonfirmasi Virus Nipah pada manusia di Indonesia. Namun kita tidak boleh lengah, mengingat karakter virus yang bersifat zoonotik dan memiliki tingkat kematian yang tinggi,” ujar Netty, Kamis (5/2/2026).

Netty menilai langkah kewaspadaan yang ditempuh pemerintah saat ini sebagai upaya pencegahan yang proporsional dan terukur. Menurutnya, kebijakan tersebut bukan untuk menimbulkan kepanikan di masyarakat, melainkan memastikan kesiapsiagaan sistem kesehatan nasional dalam menghadapi potensi risiko. “Ini bukan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan memastikan sistem kesehatan kita siap menghadapi risiko,” tegasnya.

Ia mengapresiasi diterbitkannya Surat Edaran Kementerian Kesehatan tentang kewaspadaan terhadap Virus Nipah. Surat edaran tersebut mengatur pengetatan pengawasan terhadap pelaku perjalanan internasional, alat angkut, serta barang yang masuk dari luar negeri, khususnya dari negara-negara yang terdampak.

Menurut Netty, penguatan pengawasan di pintu masuk negara melalui penggunaan thermal scanner, pendataan pelaku perjalanan melalui aplikasi Satu Sehat Health Pass, serta peningkatan kesiapsiagaan petugas kesehatan merupakan langkah yang tepat dan perlu dijalankan secara konsisten.

Selain itu, Netty menekankan pentingnya penguatan surveilans di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit rujukan. Hal ini diperlukan agar gejala yang menyerupai infeksi Virus Nipah dapat terdeteksi sejak dini. Ia juga mengingatkan bahwa sistem rujukan dan pelaporan harus berjalan cepat, terintegrasi, dan terkoordinasi dengan baik.

Tidak hanya dari sisi kesehatan manusia, Netty mengingatkan bahwa upaya pencegahan Virus Nipah tidak dapat dipisahkan dari aspek kesehatan hewan dan lingkungan. “Indonesia memiliki tingkat interaksi manusia dan satwa liar yang tinggi, termasuk keberadaan kelelawar sebagai reservoir alami virus. Pendekatan one health menjadi sangat relevan. Pengawasan lalu lintas hewan, edukasi masyarakat, serta perlindungan ekosistem harus menjadi bagian dari strategi pencegahan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Netty mendorong pemerintah untuk memperkuat edukasi publik terkait langkah-langkah pencegahan sederhana namun krusial, seperti keamanan konsumsi pangan, pengolahan nira dan produk hewani secara benar, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat. Menurutnya, edukasi harus disampaikan secara tepat agar tidak menimbulkan stigma maupun ketakutan berlebihan di tengah masyarakat.

Ia juga menyoroti pentingnya penguatan riset dan kolaborasi lintas lembaga, termasuk dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta institusi akademik. Mengingat hingga saat ini belum tersedia obat maupun vaksin spesifik untuk Virus Nipah, Netty menilai pengembangan riset menjadi kunci dalam memperkuat kesiapsiagaan nasional menghadapi potensi wabah di masa depan. [ham]


Tinggalkan Komentar