Orasi Pengukuhan Guru Besar UNAIR: Prof. Wahjoe Tekankan Kualitas Hidup Pasien Kanker Kandung Kemih - Telusur

Orasi Pengukuhan Guru Besar UNAIR: Prof. Wahjoe Tekankan Kualitas Hidup Pasien Kanker Kandung Kemih

Prof. Dr. Wahjoe Djatisoesanto, dr., Sp.U., Subsp.Onk. Foto: Istimewa.

telusur.co.id -Penanganan kanker kandung kemih kini tidak lagi hanya berfokus pada pembersihan sel kanker, namun harus dilakukan secara komprehensif. Aspek fisik, psikologis, sosial, ekonomi, hingga spiritual penderita menjadi faktor kunci yang menentukan kualitas hidup pasien pascapengobatan.

Hal tersebut ditegaskan oleh Prof. Dr. Wahjoe Djatisoesanto, dr., Sp.U., Subsp.Onk., dalam orasi ilmiah pengukuhan Guru Besar Bidang Urologi Onkologi Universitas Airlangga (UNAIR), Kamis (29/1/2026). Di hadapan sidang terbuka di Aula Garuda Mukti, Kampus MERR-C, ia menjelaskan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah memastikan pasien tetap mampu menjalani kehidupan sehari-hari dengan baik setelah terapi.

“Kanker kandung kemih termasuk jenis kanker yang ganas dengan angka kejadian yang terus meningkat di dunia. Faktor risiko utamanya meliputi kebiasaan merokok serta paparan bahan kimia tertentu, khususnya pada lingkungan kerja,” jelas Prof. Wahjoe.

Salah satu poin penting yang disoroti Prof. Wahjoe adalah minimnya kesadaran masyarakat terhadap gejala awal. Kanker kandung kemih sering kali menunjukkan tanda berupa kencing bercampur darah (hematuria) namun tidak disertai rasa sakit. Akibatnya, banyak pasien yang cenderung mengabaikan kondisi tersebut hingga mencapai stadium lanjut.

Diagnosis medis yang akurat melalui pemeriksaan laboratorium dan pencitraan seperti ultrasonografi (USG), CT-scan, hingga MRI sangat krusial untuk menentukan stadium kanker.

“Banyak pasien datang dalam kondisi stadium lanjut karena menganggap kencing berdarah sebagai keluhan ringan. Padahal pada stadium awal, kanker sering kali tidak menimbulkan rasa sakit,” tambahnya.

Seiring kemajuan teknologi, Prof. Wahjoe memaparkan bahwa metode operasi kini telah bertransformasi menuju teknik invasif minimal, seperti laparoskopi dan bedah berbantuan robot (robotic-assisted surgery). Keunggulan metode ini adalah luka operasi yang lebih kecil, perdarahan minimal, serta masa pemulihan yang jauh lebih singkat bagi pasien.

Namun, teknologi tinggi saja tidak cukup. Ia menekankan bahwa keberhasilan terapi sangat bergantung pada kerja sama tim multidisiplin.

“Penanganan kanker kandung kemih memerlukan kerja sama yang baik antara dokter urologi subspesialis onkologi, radiologis, patologis, onkologi medis, rehabilitasi medis, hingga perawat terlatih untuk perawatan stoma,” tuturnya.

Prof. Wahjoe juga mengingatkan bahwa pemilihan terapi harus didiskusikan secara mendalam dengan pasien dan keluarga. Hal ini penting agar seluruh pihak memahami tujuan utama pengobatan serta risiko penyakit penyerta yang ada.

Sebagai penutup, ia mendorong penguatan edukasi di tengah masyarakat mengenai pola hidup sehat. Deteksi dini tetap menjadi senjata paling ampuh untuk meningkatkan angka harapan hidup sekaligus menjaga martabat dan kualitas hidup penderita kanker kandung kemih di masa depan.


Tinggalkan Komentar