telusur.co.id - Seiring masyarakat Gaza menjalankan ibadah puasa Ramadan, badan-badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan mitranya mendesak dicabutnya pembatasan terhadap penyaluran bantuan yang sangat dibutuhkan.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyatakan pasokan bantuan dari Mesir masih sangat rendah akibat tingginya tingkat penolakan oleh otoritas Israel. Para mitra kemanusiaan juga mendorong dimulainya kembali konvoi antarpemerintah dari Yordania agar pengiriman bantuan dapat dilakukan dalam volume lebih besar, termasuk pasokan pangan.
OCHA menuturkan, hingga pertengahan Februari, lebih dari 20 mitra telah memproduksi dan mendistribusikan lebih dari 1,7 juta porsi makanan setiap hari melalui 180 dapur, dengan penyesuaian waktu dan menu untuk mendukung jam puasa Ramadan. Bantuan pangan umum bulanan telah menjangkau sekitar 670.000 orang, namun jatah tetap dikurangi menjadi 50 persen karena keterbatasan persediaan.
Di bidang penampungan darurat, antara 11–17 Februari, bantuan berupa tenda, terpal, perlengkapan penutup darurat, pakaian, dan barang esensial lainnya diberikan kepada lebih dari 11.500 rumah tangga di Gaza Utara, Deir al Balah, dan Khan Younis. OCHA menekankan bahwa bahan-bahan penampungan saat ini hanya bersifat sementara dan cepat rusak, sehingga dibutuhkan solusi hunian yang lebih tahan lama. [ham]



