telusur.co.id - Menteri Sosial Tri Rismaharini memarahi ASN Balai Rehabilitasi Penyandang Disabilitas Wyata Guna, Bandung, sambil mengancam akan memindahkan ke Papua bagi yang tidak becus bekerja.
Menurut pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, aksi marah-marah Risma terhadap bawahannya bukanlah hal baru. Perilaku itu sudah menjadi kebiasaannya sejak menjadi Walikota Surabaya.
ASN Kota Surabaya tentu sudah hapal dengan drama marahnya Risma. Bahkan sebagian ASN merasa stres dalam bekerja karena sewaktu-waktu bisa kena semprot.
"Marah yang diiringi ucapan tak pantas itu tentu tidak layak diucapkan seorang menteri. Risma seolah merendahkan Papua. Kesannya Papua itu sebagai tempat buangan bagi orang-orang yang bersalah," kritiknya.
Ucapan Risma itu juga dapat dipersepsi merendahkan Papua. Pulau yang kaya dan indah itu seolah-olah hanya cocok untuk ANS yang tidak berprestasi.
Sikap Risma itu tampaknya tidak menggambarkan wawasan kebangsaan. Sebagai menteri, seharusnya tak keluar ucapan yang tidak memcerminkan wawasan kebangsaan.
Karena itu, selayaknya Risma ikut test wawasan kebangsaan oleh lembaga independent. Hal itu diperlukan agar yang dituntut berwawasan kebangsaan bukan hanya para bawahan (ASN) tapi juga pimpinannya.
"Selain itu, Risma juga harus minta maaf kepada warga Papua. Hal itu perlu dilakukan agar warga Papua tidak tergores dengan ucapan Risma yang sangat tidak terpuji tersebut," tandasnya. [ham]



