telusur.co.id - Sejak kerusuhan meledak di Papua dan Papua Barat, banyak desakan agar Presiden Jokowi melakukan blusukan ke Bumi Cendrawasih. Kedatangan Jokowi di Papua diprediksi akan meredakan situasi.
“Harapan masyarakat agar Presiden harus datang ke Papua itu boleh saja. Pak Presiden bisa berdialog di sana. Bisa juga tokoh adat ke sini (Jakarta),” ujar Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Sulaeman L Hamzah, Selasa malam.
Kalaupun kunjungan tidak dilakuan dalam waktu dekat ini, Sulaeman memakluminya, karena banyak agenda penting yang harus dilakukan dan dituntaskan oleh Presiden Jokowi. Masyarakat Papua juga memahami jika pikiran dan hati Presiden memikirkan Papua.
“Pak Jokowi sudah 12 kali ke Papua. Hatinya sudah disana. Rakyat Papua tahu itu,” katanya.
Yang penting saat ini adalah Presiden Jokowi sudah memberikan perintah dan intruksi kepada Kapolri dan Panglima TNI untuk menuntaskan masalah yang ada di Papua. Aparat disana dan pemerintahan daerah mengikuti apa yang diperintah oleh Presiden.
Lebih jauh, Sulaeman mengatakan bahwa segala permasalahan yang terjadi di Papua harus diselesaikan dengan pendekatan kultural. Selain itu, pelayanan terhadap masyarakat Papua juga harus lebih dimaksimalkan lagi.
"Bagaimanapun juga, supaya rakyat Papua bisa kembali mencintai Indonesia, mau tidak mau kita kedepankan pelayanan kepada mereka. Ini tidak bisa ditawar lagi," ujarnya.
Politisi Partai Nasdem, Roberth Rouw mengatakan kasus rasisme yang dialami mahasiswa Papua di Malang dan Yogyakarta membuat masyarakat Papua sakit hati.
Untuk menyelesaikannya, harus melalui komunikasi dan acara adat. "Kami di Papua kalau ada apa-apa diselesaikan secara adat, baru selesai. Kita bicara penyelesaian untuk kedepan, bukan untuk sekarang," ujar Roberth.
Bagi Roberth, momen saat ini merupakan kesempatan yang baik untuk bangsa dalam menyelesaikan masalah di Papua. "Presiden datang bersama gubernur Jatim, buat adat besar disana, lalu minta maaf," anjurnya. [Ham]



