telusur.co.id - Rumor akan mundurnya menteri dari kabinet Joko Widodo (Jokowi) yang disampaikan Arief Poyuono, tentu tidak boleh dianggap angin lalu. Sebab, sejarah politik Indonesia dipenuhi penghianatan dari dalam disaat kerajaan atau republik mengalami situasi krisis.
"Penghianatan para menteri sangat nyata dikala pemerintahan Soeharto mengalami krisis multidimensi," ungkap pengamat politik Jamiluddin Ritonga, Kamis.
Penghianatan para menteri dengan cara mengundurkan diri secara bersamaan membuat Soeharto tak dapat mempertahankan kekuasaannya. Soeharto akhirnya mengundurkan diri dan digantikan BJ Habibie.
Belajar dari kasus tersebut, tidak menutup kemungkinan peluang penghianatan para menteri terhadap Jokowi. Bisa jadi, ada menteri yang sudah tidak nyaman di tengah penanganan lonjakan kasus Covid-19.
Para menteri tersebut bisa saja kecewa karena merasa kurang dihargai. Perannya yang seharusnya besar dalam penanganan Covid-19, namun tidak diperolehnya karena peran itu diberikan kepada orang lain.
Namun bisa saja ada diantara menteri yang sudah melihat lemahnya pola penanganan krisis akibat Covid-19 sehingga tak yakin dapat mengatasinya. Mereka ini akhirnya merasa lebih baik mundur tetatur daripada nantinya mendapat getahnya.
Jokowi tentunya harus mengambil langkah strategis untuk mengatasi rumor tersebut. Setidaknya ia harus dapat mengembalikan soliditas kabinet yang dipimpinnya.
"Kalau Jokowi tidak melakukannya dengan tepat, bisa saja rumor itu jadi kenyataan. Tentu ini berbahaya bagi kelangsungan kabinet Jokowi."
Tentu Jokowi tidak ingin nasibnya sama seperti Soeharto. Ia ditinggalkan para menterinya saat menghadapi krisis yang maha dasyat. [ham]



