Siti Qomariyah Dorong Generasi Muda Bangga dan Aktif Lestarikan Budaya Sunda - Telusur

Siti Qomariyah Dorong Generasi Muda Bangga dan Aktif Lestarikan Budaya Sunda

Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi Partai NasDem, Siti Qomariyah. Foto ist

telusur.co.id - Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi Partai NasDem, Siti Qomariyah mendorong generasi muda untuk terus mengenal, mencintai, dan melestarikan kebudayaan Sunda melalui keterlibatan aktif dalam kegiatan seni tradisional.

Pesan tersebut disampaikan Siti Qomariyah saat melaksanakan kegiatan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan bertema “Pelestarian Kebudayaan Sunda, Kesenian Tradisional, dan Pengembangan Sanggar Seni” di Sanggar Guna Wijaya, Kampung Paparean, Jalan Sindangkasih Gang Santer RT 007/004, Desa Pasir Tanjung, Kecamatan Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, Senin (24/8/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Siti melihat langsung antusiasme anak-anak hingga remaja yang mengikuti aktivitas di Sanggar Guna Wijaya. Mereka belajar seni tradisional, termasuk pencak silat, dengan penuh semangat dan mengenakan pakaian adat sebagai bagian dari proses mengenal serta menumbuhkan kebanggaan terhadap budaya daerah.

Menurut Siti, keterlibatan generasi muda menjadi salah satu kunci penting dalam memastikan kebudayaan Sunda tetap hidup dan terus diwariskan. Pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan dengan menjaga kesenian sebagai warisan masa lalu, tetapi juga harus memberikan ruang kepada anak-anak untuk mempelajarinya secara langsung.

“Kalau anak-anak kita mau belajar dan bangga dengan budaya sendiri, berarti kita masih punya harapan besar untuk menjaga warisan budaya Sunda agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya,” ujar Siti Qomariyah.

Ia mengapresiasi keberadaan Sanggar Guna Wijaya yang menjadi ruang bagi anak-anak dan remaja untuk mengenal seni tradisional sekaligus membangun kebersamaan. Keberadaan sanggar juga menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat tumbuh dari lingkungan masyarakat dan dilakukan secara berkelanjutan.

Siti menilai dukungan orang tua dan para penggerak seni juga memiliki peran penting. Kehadiran mereka dalam mendampingi anak-anak menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab pelaku seni, tetapi membutuhkan dukungan keluarga dan masyarakat.

Menurutnya, budaya juga memiliki nilai pendidikan. Anak-anak yang mengikuti kegiatan seni tidak hanya belajar mengenai gerakan, teknik, atau pertunjukan, tetapi juga dapat mengenal kedisiplinan, kebersamaan, dan rasa percaya diri melalui proses berlatih bersama.

“Yang kita jaga bukan hanya keseniannya, tetapi juga semangat anak-anak untuk belajar dan mencintai budayanya. Dari sanggar seperti inilah regenerasi pelaku seni bisa tumbuh,” katanya.

Siti berharap keberadaan sanggar seni di berbagai wilayah Jawa Barat terus mendapatkan perhatian dan ruang untuk berkembang. Menurutnya, komunitas seni di tingkat masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga identitas budaya sekaligus memperkenalkan seni tradisional kepada generasi muda.

Ia juga mendorong agar anak-anak dan remaja yang memiliki minat di bidang seni mendapatkan kesempatan untuk tampil dan mengembangkan kemampuan mereka melalui berbagai kegiatan seni dan kebudayaan.

Bagi Siti, menjaga budaya Sunda berarti menjaga bagian dari identitas masyarakat Jawa Barat. Karena itu, semangat pelestarian harus terus ditanamkan sejak dini agar budaya tidak hanya menjadi cerita tentang masa lalu, tetapi tetap hidup dalam keseharian generasi muda.

“Budaya akan tetap hidup kalau ada yang mau mempelajari, menjalankan, dan mewariskannya. Dan hari ini, kita melihat anak-anak muda yang punya semangat itu. Mereka adalah harapan bagi keberlanjutan budaya Sunda,” pungkas Siti. (VC)


Tinggalkan Komentar