Taktik Picik Israel, Retas Kamera Lalin Pakai AI untuk Pembunuhan Ali Khamenei - Telusur

Taktik Picik Israel, Retas Kamera Lalin Pakai AI untuk Pembunuhan Ali Khamenei

Warga Iran berduka atas wafatnya Ayatollah Ali Khamenei. Foto: AFP

telusur.co.id - Israel dikabarkan menghabiskan waktu bertahun-tahun meretas kamera lalu lintas Teheran dan menembus jaringan telepon seluler (ponsel) menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk memantau pergerakan keseharian Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran Ayatullah Ali Khamenei, serta para pengawalnya menjelang pembunuhannya, pada Sabtu pagi (28/2/2026). Bahkan, perencanaan operasi sudah dimulai pada 2001, ketika mantan Perdana Menteri Israel Ariel Sharon memerintahkan Mossad untuk menjadikan Iran sebagai target utamanya.

The Jerusalem Post yang mengutip Financial Times, Selasa (3/3/2026) melaporkan bahwa Israel meretas kamera lalu lintas Teheran untuk memantau kehidupan sehari-hari tokoh-tokoh senior Iran, termasuk aktivitas Ali Khamenei, sebagai persiapan Operasi "Roaring Lion". 

Menurut laporan tersebut, intelijen Israel menemukan "pola kehidupan" Khamenei dan personel keamanannya, termasuk rute perjalanan, jam aktivitasnya, serta identitas tokoh-tokoh senior yang biasanya bersama mendiang pemimpin Iran tersebut.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa Israel menggunakan perangkat teknologi AI, serta algoritma, untuk menyaring sejumlah besar informasi yang dikumpulkan tentang kepemimpinan Iran dan pergerakannya. 

Selain itu, Badan Intelijen Pusat AS (CIA) menyediakan sumber informasi tambahan guna memastikan lokasi tepat di mana Ali Khamenei berada pada hari pembunuhannya.

Laporan Financial Times merinci bahwa Israel menyerang kompleks tempat Khamenei menggunakan rudal Sparrow, sementara rudal lainya dikerahkan pada siang hari untuk mencapai kejutan taktis, bahkan dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi di Iran.

Secara total, 30 rudal ditembakkan ke arah kompleks, sedangkan menara seluler di area tersebut mengalami gangguan. Sehingga telepon personel keamanan tidak dapat menerima panggilan darurat.

Operasi tersebut mencakup intelijen sinyal, penetrasi jaringan seluler, dan konfirmasi dari sumber Amerika bahwa pertemuan tersebut memang terjadi.[Nug] 

 


Tinggalkan Komentar