Technology Transfer Office: Solusi Agar Riset Tak Hanya Masuk Kotak - Telusur

Technology Transfer Office: Solusi Agar Riset Tak Hanya Masuk Kotak

Budi Wiweko,

telusur.co.id - Wakil Direktur Medical Education Research Institute (IMERI) FK-UI, Prof.Dr.dr.Budi Wiweko, mengatakan saat ini Indonesia sangat membutuhkan Technology Transfer Office (TTO) agar riset di Indonesia maju dan tak hanya masuk kotak.

Dikatakan dia, salah satu peran utama TTO adalah membawa penelitian ke ranah komersial atau terapan untuk menyongsong Indonesia emas di 2045, TTO harus ditujukan pada kesejahteraan rakyat dan salah satu pilar negara berdikari atau berdiri diatas kaki sendiri.

“Saat ini kesenjangan atau  gap yang terjadi umumnya di fase antara penelitian transisional dengan terapan yang membutuhkan dukungan kuat dari pihak industri,” kata Budi Wiweko di Jakarta, Kamis (15/8).

Akademisi yang akrab disapa Iko ini mengakui hampir semua universitas terkemuka di dunia, menaruh perhatian besar pada bidang TTO ini. Apalagi, banyak penemuan yang lahir dari universitas mampu memberikan efek perubahan signifikan.

Ia mencontohkan, di Amerika Serikat terdapat Association University Technology Managers (AUTM), sebuah organisasi yang tugasnya mengkoordinasi semua TTO universitas di Amerika. Perjalanan panjang AUTM sejak tahun 1996 sampai tahun 2015 berhasil mendorong 380.000 invensi dengan 80.000 diantaranya mendapatkan paten. 

Gambaran ini, kata Iko, menunjukkan hanya sekitar 20 persen invensi yang berujung mendapatkan paten dan potensial menjadi produk. Karenanya, gagasan untuk melakukan penelitian harus terus diasah, dilatih, didorong serta difasilitasi oleh pemerintah, akademisi dan pihak industri.

Selain itu, lanjut dia, komunikasi intensif, kondusif dan interaktif akan membuka peluang akselerasi prototipe riset ke ranah komersialisasi. “Hal ini sangat diperlukan agar riset Indonesia tak lagi hanya masuk kotak,” tandas Iko.

Lebih lanjut, Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perkumpulan Obstetri Ginekologi Indonesia ini mengatakan, TTO berperan sebagai corong komunikasi, endorser, perencana business plan, dan negosiator.

“Seorang technology transfer officer memiliki kemampuan ulung untuk mengendus, serta mendeteksi potensi komersialisasi dari sebuah aktifitas riset,” tambah Iko.

Karenanya, sambung Ketua Komisi 2 Senat Akademik Universitas Indonesia ini, TTO harus memiliki kemampuan membaca dan menterjemahkan kebutuhan pasar sesuai terminologi Demand Readiness Level (DRL).

Konsep ini, harap Iko, dapat menarik dengan cepat aktifitas dan produk riset untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan pasar. Selain itu, TTO juga harus bekerja dengan cepat, jeli dan tidak bosan-bosannya melihat potensi kebaruan yang dibutuhkan oleh masyarakat sehingga akan mengakselerasi pusat riset untuk segera mewujudkannya melalui sebuah produk.

Berkaca dari hal tersebut di atas, tegas Iko, pengembangan pusat riset harus menjadi target utama Indonesia untuk menghasilkan penelitian yang memberi manfaat banyak bagi masyarakat dan kemajuan negara.

“Tantangan lain yang menjadi prioritas kita adalah menyatukan frekuensi dan bahasa komunikasi antara peneliti dan industri, mengutip Bung Karno “satu manifesto, satu pernyataan, satu konsepsi, satu ideologi.

Trilogi yang termasyhur: semangat nasional, kemauan nasional, perbuatan nasional” kata Guru Besar termuda Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

“Technology push, market pull,” katanya sambil menegaskan bahwa itulah sesungguhnya peran universitas dalam menciptakan perubahan yang berakhir pada kemajuan suatu negara.

Demi mewujudkan ini, Iko melihat gagasan mulia para peneliti dan pihak industri harus bersanding serasi menuju pelaminan produksi massal yang di-idam-idamkan oleh kita semua. [Ham]


Tinggalkan Komentar