Tiga Pelajar Bunuh Diri dalam Sepekan, Pakar Komunikasi Unair Tekankan Waspada Digital di Ruang Maya - Telusur

Tiga Pelajar Bunuh Diri dalam Sepekan, Pakar Komunikasi Unair Tekankan Waspada Digital di Ruang Maya

Ilustrasi depresi (doc: berbuatbaik.id)

telusur.co.id - Tiga peristiwa bunuh diri yang melibatkan remaja dan pelajar terjadi dalam waktu berdekatan di beberapa wilayah Indonesia. Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat beberapa mahasiswa mengakhiri hidupnya; Demak dikejutkan aksi nekat siswa SD gantung diri; sementara Bandung berduka atas tewasnya seorang siswa yang diduga akibat putus hubungan dengan pacarnya.
 
Kasus-kasus itu jadi tamparan keras bagi kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental generasi muda, terutama di era kehidupan nyata dan digital, berbaur tanpa sekat. Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Jawa Timur sekaligus Dosen Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR), Dr. Suko Widodo, Drs., M.Si. memandang bahwa, peristiwa tersebut adalah cerminan dari tekanan psikososial yang makin kompleks.
 
“Anak-anak hari ini hidup dalam dua ruang sekaligus: ruang fisik dan ruang digital. Tekanan di ruang digital bisa berlangsung tanpa jeda, 24 jam, dan sering tidak disadari orang tua maupun guru,” tandasnya lewat keterangan tertulisnya. Rabu, (25/2/2026).
 
Standar Umum Kehidupan
 
Dari sudut pandang komunikasi, Suko menerangkan bahwa Teori Kultivasi oleh George Gerbner mampu untuk menganalisis fenomena ini. Paparan media sosial secara berulang, membentuk persepsi remaja tentang bagaimana realitas sosial seharusnya. Puncaknya, konten-konten yang menampilkan kebahagiaan dan popularitas dinilai jadi standar umum kehidupan.
 
Menurutnya, ketika pesan dari media bercampur dengan pengalaman pribadi yang rapuh, hal itu dapat menyebabkan resonansi emosi dan memperkuat perasaan negatif. 

“Media sosial bukan hanya ruang informasi, tapi ruang amplifikasi emosi. Remaja yang sedang mengalami putus hubungan atau tekanan akademik akan lebih rentan terhadap pesan yang sesuai dengan kondisi emosionalnya,” imbuhnya.
 
Pentingnya Literasi Digital
 
Lebih lanjut, algoritma media sosial dirancang untuk menampilkan konten yang selaras dengan preferensi dan aktivitas pengguna. Maka, Suko menekankan pentingnya literasi digital yang tak hanya berhenti pada aspek teknis, tetapi juga menyentuh kesadaran emosional.
 
Perlu keterlibatan seluruh pihak mulai dari sekolah dan keluarga untuk memiliki mekanisme deteksi dini terhadap perubahan perilaku siswa. Selain itu, Suko juga berpesan agar media massa bertanggung jawab dalam pemberitaan kasus bunuh diri dengan menghindari sensasionalisme dan selalu menyertakan informasi tentang layanan konseling.
 
“Remaja bisa terhubung dengan ratusan orang secara daring setiap hari, tetapi tetap merasa sendirian secara emosional. Kita harus memastikan mereka tidak hanya terhubung, tetapi juga didengar,” tutur Suko, sapaan akrabnya. (ari)


Tinggalkan Komentar