telusur.co.id - Melemahnya nilai tukar rupiah menurut Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Adisatrya Suryo Sulisto memiliki dua sisi terhadap perdagangan Indonesia. Di satu sisi, kondisi rupiah yang melemah membuat produk ekspor Indonesia menjadi lebih murah dan kompetitif di pasar internasional. Namun di sisi lain, industri nasional masih sangat bergantung pada bahan baku impor sehingga biaya produksi ikut meningkat. Oleh karena itu ia mengingatkan agar pemerintah segera mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas rupiah agar pelemahannya tidak terus berlanjut dan membebani sektor industri dalam negeri.
“Rupiah tentu jangan terus merosot nilainya sehingga menjadi beban untuk industri kita. Kalau industri kita juga collapse ya gak ada artinya siapa yang mau ekspor kan begitu,” ujarnya usai rapat kerja (Raker) dengan Menteri Perdagangan pada Selasa (19/5/2026) di Komplek DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat.
Selain itu, Adi turut menyoroti dampak melemahnya rupiah terhadap daya beli masyarakat. Menurunnya aktivitas konsumsi masyarakat salah satunya dapat dilihat dari bisnis makanan seperti restoran yang sepi dari pembeli. Ia pun mendorong pemerintah agar segera mengambil kebijakan untuk menahan pelemahan rupiah sekaligus memperkuat ekonomi domestik agar pemulihan ekonomi berjalan lebih cepat.
“Dengan ekonomi kita lebih bisa berputar lagi ya mudah-mudahan recovery di ekonomi kita bisa lebih cepat lagi gitu,” katanya.
Dalam konteks pengembangan ekspor, Adi menilai produk-produk UMKM memiliki peluang besar untuk masuk ke pasar non-tradisional. Pemerintah Indonesia rencananya akan membuka pasar ekspor yang lebih luas hingga ke Timur Tengah dan Afrika.
Banyaknya negara-negara berkembang di kawasan tersebut merupakan pasar potensial yang harus dibuka melalui diplomasi perdagangan. Sebab negara-negara berkembang tersebut membutuhkan produk dengan harga terjangkau yang dapat dipenuhi oleh produk UMKM Indonesia.
“Jadi saya minta Kementerian Perdagangan terus aktif dalam bernegosiasi diplomasi perdagangan untuk membuka pasar-pasar lain sehingga diversifikasi pasar kita itu lebih luas lagi,” ujarnya.
Meski demikian, Adi mengakui masih banyak pelaku UMKM yang belum mampu bersaing di pasar global, terutama dengan produk impor dari China yang membanjiri pasar Indonesia. Namun ia menilai Indonesia tetap memiliki peluang besar karena didukung pangsa pasar domestik yang luas serta kreativitas pelaku UMKM.
Untuk mendukung UMKM, Adi mendorong Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) agar memperbesar porsi kredit bagi UMKM dengan bunga yang lebih kompetitif. Selain itu, dirinya juga meminta pemerintah untuk memberikan pendampingan dimulai dari produksi hingga membantu akses pasar melalui pameran dan ekshibisi.
“Jadi peluangnya menurut saya masih banyak, kita terus berpikir positif, dan kembali lagi ke soal perdagangan internasional tadi, ya ini kita bantu untuk membuka pasar-pasar non-tradisional,” pungkasnya.



