Kritik : Jangan Sampai PB KOPRI Justru Memproduksi Kembali Narasi yang Sedang Kita Lawan

by Arianto Deni |
Kritik : Jangan Sampai PB KOPRI Justru Memproduksi Kembali Narasi yang Sedang Kita Lawan
Ketua KOPRI PKC PMII Jatim periode 2025-2027, Kholisatul Hasanah (Ist)

Oleh : Kholisatul Hasanah

Ada yang perlu kita kritisi dari agenda bertajuk “Meja Bundar: Bubarkan KOPRI?” yang diselenggarakan di level Pengurus Besar. Kritik ini bukan soal larangan berdiskusi, bukan pula upaya membungkam perbedaan pendapat. Justru, karena KOPRI adalah ruang perjuangan yang kita rawat bersama, setiap narasi yang diproduksi oleh struktur tertinggi organisasi harus memiliki tanggung jawab ideologis dan dampak yang dipertimbangkan secara matang.

Mari kita gunakan analogi sederhana dalam ilmu teknologi informasi: ada hardware, software, dan brainware. Jika dianalogikan dengan organisasi, hardware adalah struktur dan kelembagaan organisasi, software adalah narasi, konten, serta kreativitas gerakan, sedangkan brainware adalah manusia yang berpikir, menentukan arah, dan mengendalikan keduanya.

Dalam sistem teknologi, kerusakan tidak selalu berasal dari perangkat keras. Terkadang perangkatnya baik, tetapi perangkat lunaknya justru menghasilkan perintah yang keliru. Atau, manusia yang mengoperasikannya tidak memahami konsekuensi dari sistem yang sedang dijalankan.

Begitu pula dengan organisasi.

Ketika struktur tertinggi KOPRI justru memproduksi narasi “Bubarkan KOPRI?”, pertanyaan kita bukan sekadar mengapa tema itu diangkat. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apa yang hendak dicapai, siapa yang akan menerima dampaknya, dan apakah kita sudah menghitung konsekuensi dari narasi yang kita sebarkan?

Sebab, narasi bukan sekadar rangkaian kata. Narasi membentuk persepsi, persepsi membangun opini, dan opini yang terus diulang dapat membentuk cara berpikir kolektif. Inilah yang saya maksud dengan algoritma manusia: ketika sebuah pesan terus diproduksi, diperbincangkan, dan disebarkan, pesan itu berpotensi menjadi kerangka berpikir baru bagi orang-orang yang mengonsumsinya.

Kita yang berada di struktur bawah selama ini berusaha keras meredam anggapan bahwa KOPRI adalah organisasi yang bermasalah, tidak relevan, atau bahkan layak dibubarkan. Kita berupaya meyakinkan kader bahwa KOPRI masih memiliki ruang perjuangan, bahwa persoalan organisasi harus dijawab dengan pembenahan, dan bahwa kelemahan kelembagaan tidak serta-merta menjadi alasan untuk menghapus keberadaannya.

Namun, ketika di level bawah kita sedang berusaha membangun kepercayaan, justru muncul agenda dari struktur tertinggi yang kembali mengangkat narasi pembubaran tersebut ke ruang publik.

Lalu, apa sebenarnya yang sedang kita bangun? Kepercayaan terhadap organisasi atau justru keraguan terhadap keberadaannya sendiri?

Di sinilah letak persoalannya. Bukan berarti tema pembubaran tidak boleh didiskusikan. Kritik terhadap KOPRI harus tetap terbuka, bahkan kritik yang paling keras sekalipun. Namun, ada perbedaan mendasar antara membedah persoalan untuk menemukan jalan keluar dan menjadikan pembubaran sebagai tajuk utama yang berpotensi memperkuat keraguan publik terhadap organisasi.

Kalau memang ada persoalan mendasar dalam KOPRI, mari kita buka datanya. Kalau ada kegagalan kaderisasi, mari kita evaluasi sistemnya. Kalau ada struktur yang tidak berjalan, mari kita periksa tata kelolanya. Kalau ada ketimpangan relasi kuasa, mari kita bongkar dan perbaiki. Dan kalau ada persoalan ideologis, mari kita tuntaskan melalui perdebatan yang jujur dan bertanggung jawab.

Jangan sampai kita terlalu sibuk mempertanyakan apakah KOPRI perlu dibubarkan, tetapi lupa membicarakan mengapa KOPRI belum sepenuhnya mampu menjalankan cita-cita pendiriannya.

Sebab, membubarkan organisasi tidak otomatis menyelesaikan persoalan. Sebaliknya, mempertahankan organisasi tanpa keberanian berbenah juga bukan sebuah prestasi.

Yang kita butuhkan adalah keberanian untuk mengoreksi diri tanpa kehilangan pijakan perjuangan.

PB KOPRI memiliki posisi strategis dalam menentukan arah wacana organisasi. Apa yang dibicarakan di tingkat pusat memiliki kemungkinan lebih besar untuk menjadi rujukan bagi struktur di bawahnya. Karena itu, semakin tinggi posisi struktural seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya dalam memproduksi narasi.

Kita tidak bisa memperlakukan setiap tema seolah-olah ia sekadar konten kreatif yang selesai setelah acara berakhir. Ada kader yang sedang membangun keyakinan terhadap organisasi. Ada pengurus yang sedang berjuang menghidupkan struktur. Ada perempuan-perempuan yang sedang berusaha meyakinkan lingkungannya bahwa KOPRI masih relevan sebagai ruang kaderisasi, kepemimpinan, dan perjuangan kesetaraan.

Mereka membutuhkan arah, konsistensi, dan penguatan. Bukan berarti mereka harus dilindungi dari kritik, tetapi jangan sampai kerja-kerja penguatan yang sedang dibangun justru berhadapan dengan kontradiksi narasi dari rumahnya sendiri.

Pada akhirnya, kita perlu bertanya kepada PB KOPRI: apakah agenda ini benar-benar dirancang untuk menguji relevansi kelembagaan melalui diskusi yang serius, atau justru tanpa disadari sedang memberikan panggung baru bagi narasi yang selama ini berusaha kita koreksi?

Pertanyaan itu layak dijawab secara terbuka.

Sebab, organisasi tidak cukup hanya memiliki struktur yang lengkap dan program yang ramai. Organisasi juga membutuhkan kecermatan berpikir, ketegasan ideologis, serta kemampuan membaca dampak dari setiap keputusan komunikasinya.

Kalau hardware-nya masih kita pertahankan, jangan sampai software-nya justru terus-menerus mengirimkan perintah untuk menghancurkan sistemnya sendiri. Dan kalau brainware-nya adalah kita semua, maka yang perlu dievaluasi bukan hanya keberadaan KOPRI, melainkan juga cara kita berpikir, menentukan agenda, dan memproduksi narasi tentang masa depan organisasi.

KOPRI tidak boleh kebal terhadap kritik. Tetapi kritik juga harus mampu melampaui sensasi judul dan sampai pada keberanian menawarkan solusi.

Jangan sampai kita mengira sedang menguji ketahanan organisasi, padahal tanpa sadar justru sedang mengikis kepercayaan terhadapnya.

Karena tugas kita bukan sekadar mempertanyakan apakah KOPRI masih layak ada. Tugas kita adalah memastikan mengapa KOPRI harus tetap ada, apa yang harus dibenahi, dan bagaimana ia menjadi ruang perjuangan yang benar-benar bermakna bagi kader dan perempuan Indonesia.

Merawat organisasi bukan berarti menutup ruang kritik. Namun, mengkritik organisasi juga menuntut tanggung jawab atas narasi yang kita produksi.

*Penulis adalah Ketua KOPRI PKC PMII Jawa Timur.

Komentar

Berita Terkait