telusur.co.id - Pembalap MotoGP, Marco Bezzecchi kembali menunjukkan mentalitas petarungnya. Dalam kondisi fisik yang belum sepenuhnya pulih, pembalap Aprilia itu sukses mengamankan podium ketiga untuk kedua kalinya dalam satu akhir pekan setelah sebelumnya meraih hasil serupa pada Sprint.
Namun, podium kali ini terasa jauh lebih berat. Balapan utama berlangsung dua kali lebih panjang dan menuntut fisik Bezzecchi hingga batas maksimal. Bahkan setelah bendera finis berkibar, ia harus berjuang menahan rasa sakit pada bahu kirinya.
Kelelahan itu begitu terlihat ketika Bezzecchi menghadiri konferensi pers. Ia bahkan harus melepas baju balap karena bahunya terasa terlalu sakit.
“Saya senang. Saya lelah, saya tidak tahan lagi, tetapi itu sepadan. Kemarin sangat seru, hari ini bahkan lebih seru,” ujar Bezzecchi sambil tersenyum.
Podium tersebut menjadi buah dari tekad kuat Bezzecchi untuk tidak menyerah. Setelah melewati periode sulit dan menjalani dua operasi hanya dalam waktu tujuh hari, pembalap asal Italia itu akhirnya mampu kembali menunjukkan kecepatannya di lintasan.
“Saya sangat menginginkannya; saya tidak bisa menyerah. Saya rela melakukan apa saja—untuk semua kerja keras tim, untuk semua kerja keras yang saya lakukan musim panas ini. Ini luar biasa; saya sangat menikmatinya,” katanya.
Menariknya, Bezzecchi mengaku sebelum akhir pekan dimulai, dirinya bahkan tidak memasang target tinggi. Dua kali finis di posisi ketiga bukan sesuatu yang masuk dalam perkiraannya.
“Bahkan dua kali finis di posisi keenam, atau dua kali finis di posisi ketujuh, jujur saja. Itu semua adalah bonus,” tuturnya.
Bertarung dengan Alex Marquez dalam Kondisi Terbatas
Salah satu momen paling berat terjadi pada fase akhir balapan ketika Bezzecchi harus mempertahankan posisi ketiganya dari tekanan Alex Marquez.
Bezzecchi sebenarnya sudah mulai kehilangan tenaga di tengah balapan. Kondisi fisiknya membuatnya tidak mampu memacu motor seagresif yang diinginkan.
“Saya berhasil menghemat ban, tetapi saya tahu saya akan mulai kelelahan secara fisik. Benar saja, saya tertinggal di tengah balapan ketika Martin dan Alex melewati saya,” ungkapnya.
Beruntung bagi Bezzecchi, Alex Marquez melakukan kesalahan di Tikungan 1. Kesempatan itu dimanfaatkan Bezzecchi untuk mengambil napas dan kembali mengatur ritmenya.
“Saya punya beberapa lap untuk mengatur napas, tetapi saya benar-benar kelelahan. Marquez selalu cepat, tetapi bahkan lebih cepat lagi di trek seperti ini. Itu sulit. Saya tahu saya mungkin kalah dalam pertarungan, tetapi saya harus memberikan yang terbaik,” katanya.
Bezzecchi juga mengakui dirinya harus mengorbankan kecepatan demi menjaga kondisi ban dan fisik. Ia bahkan sempat frustrasi ketika melihat Raul Fernandez mulai menjauh.
“Saya tahu saya tidak bisa memacu sekuat yang saya inginkan, baik karena ban maupun kondisi fisik saya. Saya sedikit kesal melihat Raul menjauh, tetapi jika saya mengikutinya, saya pasti akan tersingkir setelah enam lap,” ujarnya.
Podium yang Penuh Makna
Bagi Bezzecchi, podium kali ini bukan sekadar tambahan trofi. Hasil tersebut menjadi simbol perjalanan panjang yang ia lalui selama masa pemulihan.
Ia mengaku sulit menahan air mata ketika adrenalin balapan mulai mereda dan seluruh emosi yang selama ini dipendam kembali muncul.
“Sulit untuk menahan air mata. Saya bukan tipe orang yang suka menunjukkan emosi, tetapi begitu adrenalin mereda, semua masalah dunia mengalir keluar,” katanya.
Bezzecchi menilai hasil ini menjadi bukti bahwa kerja keras selama masa pemulihan akhirnya mulai membuahkan hasil.
“Ketika Anda bekerja keras dan kemudian mengalami pukulan berat—seperti yang terjadi pada saya saat memulai di Mugello—datang ke sini tanpa ekspektasi dan membawa pulang dua hasil bagus sungguh luar biasa,” tuturnya.
Ia pun menyebut podium tersebut sebagai salah satu trofi yang akan memiliki tempat khusus di rumahnya.
“Saya akan berbohong jika mengatakan ini seperti kemenangan, tetapi ini adalah posisi ketiga yang bagus. Ini akan menjadi trofi yang, ketika saya melihatnya di rumah, akan mengingatkan saya pada banyak hal—baik dan buruk,” ujar Bezzecchi sambil tertawa.



