telusur.co.id - Ketua LPTNU DKI Jakarta Mulyadin Permana menegaskan bahwa penguatan sumber daya manusia Nahdliyin di bidang STEM memiliki arti strategis bagi kemajuan Indonesia. Besarnya jumlah warga NU membuat keberhasilan transformasi pendidikan di lingkungan NU akan memberikan dampak langsung terhadap kualitas sumber daya manusia nasional.
“Wajah NU adalah wajah Indonesia. Ketika sumber daya manusia NU di bidang STEM masih terbatas, hal itu menunjukkan bahwa perkembangan sains dan teknologi Indonesia juga belum berlangsung secara merata dan masif. Mengurus kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di lingkungan NU berarti ikut mengurus masa depan Indonesia,” kata Mulyadin usai membuka kegiatan Sarasehan Pendidikan Tinggi NU 2026 bertajuk “Nahdlatul ‘Ilmi, Kebangkitan Sains dan Teknologi Kaum Nahdliyin” di Roemah Djan, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 25 Juli 2026.
Menurutnya, penguasaan STEM di lingkungan NU harus dimulai dengan membangun kesadaran kolektif. Berbagai ikhtiar individual yang selama ini telah dilakukan oleh tokoh, akademisi, dan keluarga Nahdliyin perlu dikonsolidasikan menjadi agenda kelembagaan yang terintegrasi dalam struktur organisasi NU.
“Selama ini banyak tokoh dan keluarga NU yang telah menyekolahkan anak-anaknya dalam bidang STEM, menyediakan beasiswa, atau mendukung pengembangan sains dan teknologi secara individual. Upaya tersebut sangat penting, tetapi belum cukup. Kita membutuhkan desain organisasi, kebijakan, dan program yang dijalankan secara serius pada seluruh tingkat kepengurusan NU, terutama pada tingkat nasional oleh PBNU,” ujarnya.
Ia mendorong agar pesantren dan madrasah NU mulai membangun program unggulan yang berfokus pada teknologi pertanian, teknologi kesehatan, teknologi informasi, ilmu komputer, teknik dan rekayasa, kecerdasan artifisial, robotika, energi terbarukan, matematika, serta cabang-cabang ilmu pengetahuan lain yang dibutuhkan pada masa depan.
Lulusan dari lembaga-lembaga tersebut selanjutnya harus memperoleh jalur pendidikan yang jelas menuju perguruan tinggi NU berbasis STEM atau perguruan tinggi nasional dan internasional yang menjalin kemitraan strategis dengan NU.
“Ekosistemnya perlu dibangun secara utuh. Pesantren dan madrasah menyiapkan dasar keilmuan, perguruan tinggi menyediakan pendidikan lanjutan dan riset, sedangkan pemerintah, dunia usaha, serta lembaga penelitian mendukung pembiayaan, laboratorium, beasiswa, dan ruang inovasi,” kata Mulyadin.
LPTNU DKI Jakarta juga mendorong kerja sama yang lebih intensif antara NU, pemerintah, lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan sektor industri. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI diharapkan dapat membantu pembangunan ekosistem riset dan pengembangan perguruan tinggi berbasis STEM di lingkungan NU.
LPTNU DKI Jakarta turut mengapresiasi berbagai program beasiswa Kementerian Agama RI yang mulai membuka akses lebih luas bagi santri dan kader Nahdliyin untuk menempuh pendidikan pada bidang-bidang STEM.
Kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta lembaga penelitian lainnya juga dinilai penting untuk memperluas akses ilmuwan dan mahasiswa NU terhadap laboratorium, pendanaan riset, pendampingan inovasi, publikasi ilmiah, dan hilirisasi hasil penelitian.
“Kami mengundang Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Kementerian Agama, BRIN, serta berbagai pemangku kepentingan dalam sarasehan ini agar dapat dirumuskan pola kolaborasi yang konkret. NU memiliki jaringan sosial dan pendidikan yang sangat luas, sedangkan pemerintah dan lembaga penelitian mempunyai sumber daya, regulasi, dan infrastruktur. Kekuatan tersebut harus dipertemukan,” ujar Mulyadin.
LPTNU DKI Jakarta juga meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan dukungan terhadap pengembangan sumber daya manusia Nahdliyin melalui pendidikan, pelatihan, beasiswa, riset, dan pengembangan keterampilan di bidang STEM.
Selain itu, LPTNU mengusulkan dukungan penyediaan lahan untuk pengembangan kampus NU berbasis STEM di Jakarta. Kampus tersebut diharapkan dapat menjadi pusat pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengembangan teknologi yang memberikan manfaat bagi warga Jakarta dan masyarakat Indonesia secara luas.
Sarasehan ini menjadi forum strategis untuk merumuskan konsep, prinsip, dan langkah konkret penguasaan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika atau STEM bagi warga Nahdlatul Ulama. Forum tersebut juga membahas pengembangan perguruan tinggi NU yang berorientasi pada STEM, termasuk kemungkinan pendirian kampus berbasis sains dan teknologi di Jakarta.
Sejak kelahirannya pada 1926, Nahdlatul Ulama telah menempatkan pendidikan sebagai salah satu pilar utama perjuangan. Jaringan pesantren, madrasah, sekolah, dan perguruan tinggi NU telah melahirkan jutaan kader bangsa yang berpegang pada nilai keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Modal sosial dan tradisi keilmuan tersebut dinilai perlu diarahkan untuk menjawab perubahan dunia yang semakin bertumpu pada ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.
Perkembangan ekonomi berbasis pengetahuan, digitalisasi, kecerdasan artifisial, teknologi kesehatan, energi terbarukan, dan otomasi membuat kebutuhan terhadap sumber daya manusia di bidang STEM semakin mendesak. Pada saat yang sama, keterwakilan kader dan tenaga ahli Nahdliyin dalam bidang tersebut masih perlu diperkuat melalui strategi pendidikan yang terencana dan berkesinambungan.
Semangat Nahdlatul ‘Ilmi diusung sebagai gerakan kebangkitan ilmu pengetahuan di kalangan Nahdliyin. Penguasaan STEM yang bertumpu pada nilai Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah diharapkan dapat melahirkan ilmuwan, teknolog, insinyur, peneliti, dan inovator yang unggul secara intelektual, kuat secara moral, serta memiliki komitmen kebangsaan dan kemanusiaan.
Sarasehan ini dihadiri Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama RI Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.A. yang mewakili Menteri Agama RI, serta Staf Ahli Bidang Penguatan Ekosistem Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Dr. Muhammad Hasan Chabibie, S.T., M.Si. yang mewakili Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI.
Hadir pula Ketua PBNU Bidang Pendidikan Dr. KH. Ahmad Suaedy, perwakilan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Jajuli serta Biro Pendidikan dan Mental Spiritual Herman, S.Ag., M.Si. Sarasehan juga diikuti jajaran Syuriah dan Tanfidziyah PWNU DKI Jakarta, badan otonom dan lembaga di lingkungan PWNU DKI Jakarta, serta pengurus PCNU se-DKI Jakarta.



