telusur.co.id - Harga minyak mentah dunia masih menunjukkan volatilitas tinggi sepanjang pekan ini, meski pada perdagangan terakhir terjadi koreksi tajam. Kekhawatiran atas potensi eskalasi perang Amerika Serikat (AS)-Iran mendorong pasar menilai risiko gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah, yang bisa berdampak pada pertumbuhan ekonomi global.
Berdasarkan data Refinitiv, pada Jumat (1/5/2026), harga minyak Brent berada di US$108,17 per barel, turun 5,12%, sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) merosot 2,98% ke US$101,94 per barel. Meski demikian, secara mingguan Brent tetap naik 2,7% dan WTI melonjak 7,99% secara point-to-point.
Reli harga minyak sebelumnya dipicu laporan Axios bahwa Presiden AS Donald Trump akan menerima pengarahan mengenai opsi serangan militer terhadap Iran, dengan harapan memaksa Iran kembali ke meja negosiasi terkait program nuklirnya. Tamas Varga, pialang minyak di PVM, menilai koreksi harga pada akhir pekan ini mencerminkan volatilitas pasar yang meningkat sejak dimulainya perang Iran pada 28 Februari lalu.
“Koreksi ini tidak terkait dengan perkembangan spesifik, tapi mencerminkan sifat perdagangan yang tidak dapat diprediksi di dunia Trump,” ujar Varga, dikutip Reuters.
Sebelumnya, reli minyak juga dipicu oleh laporan bahwa AS berencana memperpanjang blokade pelabuhan Iran. Langkah tersebut dinilai pasar dapat menahan pasokan energi dari Teluk lebih lama, sementara gangguan di Selat Hormuz—jalur distribusi utama sekitar 20% minyak dan LNG global menambah tekanan. Setiap hari gangguan di Hormuz berdampak pada tertahannya kapal, meningkatnya biaya logistik, dan terganggunya distribusi ke Asia maupun Eropa.
Dari sisi fundamental, data persediaan AS juga mempengaruhi pergerakan harga. Laporan industri menyebut stok minyak mentah AS turun 1,79 juta barel pada pekan lalu, sementara persediaan bensin dan distilat masing-masing anjlok 8,47 juta barel dan 2,60 juta barel. Penurunan stok biasanya diartikan sebagai sinyal permintaan yang masih kuat atau pasokan yang mengetat.
Secara keseluruhan, meskipun harga minyak terkoreksi pada akhir pekan, pelemahan ini lebih terlihat sebagai jeda setelah lonjakan tajam dalam beberapa pekan terakhir akibat ketegangan geopolitik dan pasokan global yang tertekan.



