telusur.co.id -Lima kecamatan di Kota Surabaya diprediksi menjadi wilayah dengan risiko tinggi demam berdarah dengue (DBD) pada 2026. Prediksi tersebut dihasilkan melalui Aedes Aegypti Environmental Risk System (AERIS), sebuah inovasi berbasis Web Geographic Information System (WebGIS) dan machine learning yang dikembangkan mahasiswa Departemen Teknik Geomatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Berdasarkan hasil analisis AERIS, Kecamatan Tambaksari, Rungkut, Tandes, Sawahan, dan Semampir termasuk dalam kategori wilayah dengan pola risiko tinggi terhadap penyebaran DBD.
Ketua tim pengembang AERIS, Rifqi Pangestu Wiguna, menjelaskan bahwa sistem tersebut dirancang untuk membantu mengidentifikasi kawasan yang berpotensi mengalami peningkatan kasus DBD. Menurutnya, inovasi ini hadir untuk mendukung upaya pencegahan penyakit berbasis data.
“Melalui inovasi ini, kami berupaya menggeser pendekatan dari responsif menjadi preventif,” terang Rifqi.
Untuk menghasilkan prediksi tersebut, Rifqi bersama tim memanfaatkan data kasus DBD Kota Surabaya periode 2019-2024 yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya. Data tersebut kemudian dipadukan dengan sejumlah variabel lingkungan dan sosial, seperti curah hujan, topografi, kepadatan penduduk, sebaran titik genangan air, serta enam variabel pendukung lainnya.
Menurut Rifqi, semakin banyak faktor relevan yang diintegrasikan ke dalam model, maka semakin tinggi pula kemampuan sistem dalam memprediksi risiko penyebaran DBD.
Data yang terkumpul selanjutnya diolah menggunakan empat metode pemodelan machine learning, yakni Random Forest, XGBoost, Support Vector Regression, dan Regresi Binomial Negatif.
“Kombinasi variabel ini memungkinkan sistem menyajikan informasi risiko sebagai pendukung pengambilan keputusan berbasis data,” papar mahasiswa angkatan 2023 tersebut.
Hasil analisis AERIS menunjukkan bahwa risiko DBD cenderung terkonsentrasi di wilayah dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi. Selain itu, keberadaan genangan air menjadi salah satu faktor yang paling berpengaruh dalam model prediksi yang dikembangkan tim.
“Oleh sebab itu, pengelolaan genangan dan pemberantasan sarang nyamuk tetap menjadi langkah yang relevan,” ungkap Rifqi.
Melanjutkan penjelasannya, Rifqi mengatakan bahwa tim juga melakukan pengujian terhadap keandalan model menggunakan data aktual kasus DBD pada Maret 2025 yang tidak dimasukkan dalam proses pelatihan data. Hasilnya, sistem mampu mengidentifikasi sembilan dari sepuluh kecamatan dengan jumlah kasus tertinggi secara tepat.
Sementara itu, Kecamatan Bubutan menjadi satu-satunya wilayah yang tidak teridentifikasi oleh model. Tim menduga kondisi tersebut dipengaruhi faktor lokal yang bersifat sementara, seperti munculnya klaster wabah pada periode tertentu.
Selain menghasilkan prediksi risiko, AERIS juga menyediakan peta interaktif berbasis WebGIS yang dapat diakses masyarakat maupun pemangku kepentingan. Melalui platform tersebut, pengguna dapat melihat visualisasi persebaran kasus DBD, data curah hujan, lokasi fasilitas kesehatan, hingga hasil prediksi risiko penyakit pada tingkat kecamatan.
“Kami berharap AERIS menjadi salah satu alat pendukung pengambilan keputusan yang berbasis data,” tutupnya.
Pengembangan AERIS sejalan dengan komitmen ITS dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Inovasi ini berkontribusi pada tujuan ke-3, yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui penyediaan model prediktif untuk mitigasi DBD. Selain itu, integrasi analisis kerawanan genangan dalam peta risiko penyakit juga mendukung tujuan ke-11, yakni Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan.



