Model Masyarakat Berimbang, Seperti Apa? - Telusur

Model Masyarakat Berimbang, Seperti Apa?

Wali Kota Pasuruan, Adi Wibowo (tengah) seusai menjalani Ujian Terbuka Disertasi saat foto bersama Wakil Direktur Kerja Sama PENS, Firman Arifin (kanan) di FISIP Universitas Brawijaya (UB)

telusur.co.idOleh : Dr. Ir. Firman Arifin, S.T., M.T.

*Analisa Ujian Terbuka Disertasi dari Walikota Pasuruan, Adi Wibowo pada Program Doktor Ilmu Sosiologi FISIP UB dengan judul “Model Masyarakat Berimbang | Studi Kesalehan Individu dan Kesalehan Sosial Masyarakat Perkotaan”.

KADANG kita berpikir persoalan masyarakat itu sederhana, kalau individunya baik, maka masyarakat akan baik.

Padahal realitasnya tidak sesederhana itu.

Ada orang yang rajin ibadah, tetapi kurang peduli pada lingkungan sosialnya. Ada masyarakat yang tampak maju, tetapi kehilangan empati dan rasa saling menjaga. Ada modernitas yang menghadirkan kemajuan, tetapi juga melahirkan individualisme dan keterasingan.

Di sisi lain, tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai sosial sering menjadi jangkar yang menjaga manusia tetap tenang di tengah perubahan zaman.

Menarik sekali ketika disertasi ini mencoba membaca hubungan antara kesalehan individu, kesalehan sosial, kapasitas adaptasi, hingga kerentanan sosial masyarakat perkotaan.

Dan jujur, saya seperti diingatkan pada sebuah pemikiran lama yang pernah saya tulis beberapa tahun lalu tentang pentingnya memperluas kesalehan sosial.

Karena kesalehan individu memang pondasi.
Tetapi agama tidak berhenti pada diri sendiri.

Shalat membentuk disiplin pribadi.
Puasa melatih pengendalian diri.
Zakat mengajarkan kepedulian sosial.
Haji menghadirkan kesadaran persaudaraan kemanusiaan.

Artinya, ibadah tidak hanya membangun hubungan vertikal kepada Allah, tetapi juga menghadirkan dampak horizontal kepada manusia.

Kesalehan pribadi seharusnya melahirkan kesalehan sosial.

Dan menariknya, nilai ini sebenarnya juga sangat dekat dengan ruh Pancasila.

Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, bukan hanya tentang pengakuan adanya Tuhan, tetapi tentang menghadirkan nilai ketuhanan dalam kehidupan sehari-hari.

Sedangkan sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, adalah pancaran nyata dari kesalehan tersebut dalam kehidupan sosial.

Karena hubungan kepada Allah seharusnya melahirkan kemuliaan akhlak kepada manusia.

Maka sila pertama tanpa sila kedua bisa menjadi kering makna, sementara sila kedua tanpa sila pertama bisa kehilangan ruh dan arah.

Keduanya saling terhubung.

Dalam analogi teknik, iman itu seperti sumber energinya. Akhlak dan kemanusiaan adalah output manfaatnya.

Karena sistem yang baik bukan hanya memiliki sumber daya, tetapi juga menghasilkan kemanfaatan yang dirasakan lingkungan sekitarnya.

Mungkin itu sebabnya tema “Masyarakat Berimbang” terasa sangat relevan.

Ada keseimbangan antara modernitas dan spiritualitas, antara individu dan sosial, antara kebebasan dan tanggung jawab, antara perubahan dan nilai yang menjaga arah kehidupan.

Kota boleh tumbuh modern.
Teknologi boleh melesat cepat.
Tetapi jika manusia kehilangan empati, maka kemajuan hanya melahirkan kesepian baru.

Sebab pada akhirnya, masyarakat yang sehat bukan yang paling ramai, bukan pula yang paling modern, tetapi yang mampu menjaga keseimbangan nilai, kemanusiaan, dan daya adaptasi di tengah perubahan zaman.

***

Selamat dan sukses kepada Dr. Adi Wibowo atas capaian gelar doktornya. Keren sekali tema disertasinya. Reflektif, membumi, dan dekat dengan realitas masyarakat perkotaan hari ini.

Semoga ilmunya membawa manfaat luas bagi masyarakat, khususnya bagi Kota Pasuruan yang beliau pimpin.

Dan terasa semakin indah, karena momentum ini hadir di Hari Arafah, hari yang penuh doa, penuh pengampunan, dan penuh harapan kebaikan. (ari)


Tinggalkan Komentar