Netty Soroti Magang Nasional Batch 2: Jangan Cuma Tambah Isi CV, Harus Buka Jalan ke Dunia Kerja - Telusur

Netty Soroti Magang Nasional Batch 2: Jangan Cuma Tambah Isi CV, Harus Buka Jalan ke Dunia Kerja

Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher

telusur.co.id - Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, meminta pemerintah memastikan pelaksanaan Magang Nasional Batch 2 benar-benar menjadi jembatan bagi para fresh graduate menuju dunia kerja.

Menurutnya, program magang jangan berhenti sebatas menambah pengalaman dan mempercantik Curriculum Vitae (CV).

Politisi PKS itu menilai program yang dijalankan pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan tersebut memiliki peran penting untuk menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri.

Namun, keberhasilan program tidak semestinya hanya diukur dari banyaknya peserta yang mengikuti atau menyelesaikan program.

“Magang memang penting untuk memberikan pengalaman kerja kepada fresh graduate. Tetapi tujuan akhirnya bukan sekadar mendapatkan pengalaman. Yang lebih penting adalah apakah pengalaman tersebut benar-benar meningkatkan kompetensi dan membuka jalan menuju pekerjaan yang layak,” ujar Netty dalam keterangannya, Rabu (2/9/2026).

Netty meminta pemerintah memastikan setiap peserta memperoleh pengalaman yang sesuai dengan kompetensi, pendampingan yang memadai, serta pembelajaran nyata selama menjalani program.

Ia mengingatkan agar program magang tidak bergeser menjadi sekadar sarana bagi perusahaan mendapatkan tenaga untuk mengerjakan pekerjaan rutin tanpa adanya peningkatan kemampuan bagi peserta.

“Jangan sampai kita hanya menyelesaikan persoalan ‘belum punya pengalaman kerja’, tetapi setelah magang selesai mereka kembali menghadapi persoalan yang sama, yaitu sulit mendapatkan pekerjaan,” katanya.

Menurut Netty, pemerintah perlu memastikan bahwa enam bulan masa magang benar-benar memberikan nilai tambah bagi peserta dan meningkatkan daya saing mereka ketika memasuki pasar kerja.

Netty mendorong agar evaluasi Magang Nasional dilakukan secara lebih komprehensif. Pemerintah tidak cukup hanya mencatat jumlah peserta yang diterima dan berhasil menyelesaikan program.

Lebih jauh, evaluasi harus melihat berapa banyak peserta yang memperoleh pekerjaan setelah magang, apakah pekerjaan tersebut sesuai dengan kompetensinya, serta apakah mereka mampu bertahan dan berkembang di dunia kerja.

“Ukuran keberhasilan program harus sampai pada outcome. Berapa yang setelah magang diterima bekerja? Apakah pekerjaannya sesuai kompetensi? Dan apakah mereka mampu bertahan dalam pekerjaan tersebut?” jelasnya.

Selain persoalan kompetensi dan penyerapan kerja, Netty menilai aspek perlindungan peserta harus menjadi perhatian serius.

Peserta magang, kata dia, tetap berhak mendapatkan lingkungan kerja yang aman, jam kerja yang wajar, pendampingan, serta akses terhadap mekanisme pengaduan apabila menghadapi persoalan selama mengikuti program.

“Fresh graduate jangan hanya dilihat sebagai penerima manfaat program, tetapi juga sebagai generasi pekerja yang sedang memasuki dunia kerja. Mereka membutuhkan pengalaman, tetapi juga membutuhkan perlindungan dan kepastian arah setelah program selesai,” tegasnya.

Netty berharap Magang Nasional dapat menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mengatasi persoalan skill mismatch sekaligus memperkuat transisi dari dunia pendidikan menuju pekerjaan.

Ia menegaskan, masa magang bukanlah tujuan akhir. Yang jauh lebih penting adalah memastikan semakin banyak anak muda memiliki kompetensi yang dibutuhkan industri dan memperoleh pekerjaan yang layak.

“Magang enam bulan bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah semakin banyak anak muda yang memiliki kompetensi dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Jangan sampai pengalaman bertambah, tetapi kesempatan kerjanya tetap tidak bertambah,” pungkasnya.


Tinggalkan Komentar