telusur.co.id - Bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-55, Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon meluncurkan antologi puisi Mimpi-Mimpi yang Kupelihara, sebuah kumpulan karya yang merekam perjalanan kreatifnya sejak masa kanak-kanak, remaja, hingga awal menjadi mahasiswa. Buku ini menghimpun puisi-puisi yang ditulis dalam rentang 1983–1991 dan menjadi penanda penting dalam perjalanan kepenyairannya.
Untuk menjangkau pembaca yang lebih luas, antologi ini juga diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan judul Dreams I Keep: A Collection of Poems, 1983–1991. Buku tersebut diterbitkan oleh Horison bekerja sama dengan Fadli Zon Library sebagai dokumentasi penting perjalanan sastra Fadli Zon sekaligus kontribusi bagi perkembangan sastra Indonesia.
Antologi ini memuat beragam tema yang merefleksikan pengalaman personal, kenangan masa kecil, kegelisahan intelektual, kecintaan pada alam, hingga renungan sosial yang tumbuh pada masa pembentukan karakter dan pemikiran penulis. Melalui puisi-puisi tersebut, pembaca diajak menelusuri jejak batin seorang penyair muda yang kemudian dikenal luas melalui kiprahnya di bidang politik, kebudayaan, dan literasi.
Peluncuran buku ini menjadi momentum reflektif dalam perayaan ulang tahun ke-55 Fadli Zon. Momen tersebut menandai perjalanan panjang yang tidak hanya diwarnai aktivitas di ruang publik, tetapi juga dedikasi yang konsisten terhadap dunia sastra, budaya, dan literasi. Melalui Mimpi-Mimpi yang Kupelihara, Fadli Zon mengajak pembaca untuk terus merawat mimpi, harapan, dan nilai-nilai kemanusiaan yang tumbuh sejak masa muda serta tetap relevan hingga saat ini.
Menurut Fadli Zon, puisi merupakan salah satu medium sastra yang memiliki peran penting dalam membangun peradaban dan memperkuat identitas budaya bangsa. Karya sastra, katanya, bukan hanya ruang ekspresi kreatif, tetapi juga sarana merekam memori kolektif, memperluas wawasan kemanusiaan, menumbuhkan kepekaan, serta membangun dialog dengan realitas sosial.
"Puisi adalah medium sastra yang penting karena mampu menangkap hal-hal yang sering kali luput dari bahasa sehari-hari. Melalui puisi, kita dapat merekam pengalaman batin, menyampaikan harapan, kegelisahan, bahkan kritik sosial dengan cara yang lebih reflektif dan manusiawi," ujar Fadli Zon.
Ia menambahkan, Mimpi-Mimpi yang Kupelihara merupakan dokumentasi perjalanan hidup sekaligus perjalanan kreatif yang merekam fase pembentukan karakter, pemikiran, dan pandangannya terhadap kehidupan sejak masa anak-anak hingga awal menjadi mahasiswa. Karena itu, penerbitan kembali buku ini diharapkan dapat menginspirasi generasi muda untuk lebih dekat dengan dunia sastra dan menjadikan menulis sebagai ruang ekspresi serta refleksi diri.
Sebagai Menteri Kebudayaan, Fadli Zon juga menekankan pentingnya penguatan ekosistem sastra nasional melalui dukungan terhadap para penulis, penyair, komunitas literasi, penerbit, serta berbagai ruang kreatif yang memungkinkan lahirnya karya-karya berkualitas.
"Puisi dan sastra merupakan bagian penting dari kebudayaan kita. Melalui sastra, kita merawat bahasa, merekam perjalanan zaman, dan memperkaya perspektif kebangsaan. Karena itu, penguatan ekosistem sastra harus menjadi bagian dari upaya memajukan kebudayaan Indonesia," katanya.
Fadli berharap peluncuran kembali Mimpi-Mimpi yang Kupelihara tidak hanya menjadi momentum refleksi pribadi, tetapi juga mampu mendorong minat baca, meningkatkan apresiasi terhadap sastra, serta menumbuhkan semangat berkarya di kalangan generasi muda. Menurutnya, semakin kuat ekosistem sastra Indonesia, semakin besar pula kontribusi kebudayaan dalam membangun karakter bangsa dan memperkuat posisi Indonesia di tingkat global. [ham]



