telusur.co.id - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Marco Rubio, kembali menegaskan bahwa tidak ada perubahan dalam kebijakan Washington terhadap Taiwan. Menurutnya, mempertahankan status quo merupakan langkah terbaik untuk menjaga stabilitas di sekitar pulau yang memiliki pemerintahan sendiri tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Rubio saat memberikan kesaksian di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS, Selasa (2/6), menyusul pernyataan Presiden Donald Trump bulan lalu yang menyebut penjualan senjata kepada Taiwan dapat menjadi “alat tawar yang sangat baik” dalam hubungan AS dengan China.
Komentar Trump tersebut memicu kekhawatiran di kalangan sekutu AS di Asia karena dianggap mengindikasikan bahwa komitmen Washington terhadap Taiwan dapat dipengaruhi oleh dinamika hubungan yang lebih luas dengan Beijing.
Namun, Rubio menepis anggapan tersebut dan menegaskan bahwa kebijakan AS tetap konsisten.
“Hal yang paling penting untuk dipahami adalah bahwa kami ingin melihat status quo tetap dipertahankan seperti saat ini. Itulah kebijakan kami. Itulah yang telah kami katakan. Dan itulah yang terus kami katakan,” ujar Rubio.
Rubio, yang pada pertengahan Mei mendampingi Trump dalam kunjungan ke Beijing untuk bertemu Presiden China Xi Jinping, juga menegaskan pentingnya dialog antara kedua negara. Menurutnya, AS dan China sebagai dua kekuatan terbesar dunia harus terus menjaga komunikasi guna mengurangi potensi konflik.
“Jelas ada sejumlah persoalan yang sangat mengganggu dalam hubungan kami dengan China. Karena itu, yang kami coba lakukan adalah mengelola periode stabilitas strategis, sambil menyadari bahwa ada bidang-bidang dalam hubungan kami yang akan tetap menghadapi persaingan, bukan hanya selama beberapa tahun, tetapi mungkin selama beberapa dekade,” katanya.
Terkait paket penjualan senjata senilai 14 miliar dolar AS untuk Taiwan yang masih tertunda, Rubio menegaskan bahwa keputusan tersebut tidak dipengaruhi tekanan dari China.
“Mereka terus-menerus membicarakan penjualan senjata ke Taiwan, tetapi hal itu sama sekali bukan faktor yang menghambat proses pengambilan keputusan kami. Ini adalah sesuatu yang harus diputuskan oleh presiden terkait waktu dan cara pelaksanaannya,” ujarnya.
Pernyataan Rubio muncul setelah Trump dalam wawancara dengan Fox News menyebut paket penjualan senjata tersebut untuk sementara ditangguhkan dan dapat menjadi instrumen negosiasi dalam hubungan dengan Beijing.
Komentar itu menimbulkan kekhawatiran di Taiwan dan sejumlah negara lain karena dianggap menunjukkan kemungkinan fleksibilitas AS terhadap komitmen keamanannya demi mencapai kesepakatan dengan pihak lain.
Bahas Konflik Iran
Dalam kesempatan terpisah di hadapan subkomite Komite Alokasi Anggaran DPR AS, Rubio juga membahas sejumlah isu kebijakan luar negeri dan keamanan nasional, termasuk konflik dengan Iran, NATO, mineral kritis, serta wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo.
Konflik dengan Iran menjadi salah satu topik utama dalam kesaksiannya. Ini merupakan penampilan pertamanya di hadapan anggota parlemen sejak AS dan Israel melancarkan serangan udara bersama terhadap Iran pada akhir Februari.
Rubio mengakui bahwa perundingan yang sedang berlangsung untuk mengakhiri konflik tidak berjalan mudah. Menurutnya, salah satu kendala berasal dari kondisi politik internal Iran yang dinilai masih terpecah.
“Dibutuhkan waktu berhari-hari untuk memperoleh respons dari sistem mereka,” katanya.
Meski demikian, Rubio menyebut adanya perkembangan positif karena pejabat Iran kini bersedia membahas sejumlah aspek program nuklir yang sebelumnya tidak pernah mereka buka untuk negosiasi.
“Itu bukan jaminan bahwa pada akhirnya akan menghasilkan kesepakatan yang dapat diterima Senat atau masyarakat Amerika. Namun, kami akan dapat melibatkan mereka dalam sebuah proses untuk benar-benar menguji sejauh mana mereka bersedia melangkah,” ujarnya.
Sementara itu, Presiden Trump pada Selasa juga mengatakan bahwa komunikasi antara AS dan Iran masih berlangsung, bertentangan dengan laporan media pemerintah Iran yang menyebut kedua negara telah menghentikan pertukaran pesan dalam beberapa hari terakhir. [ham]



